Rabu, 21 Jul 2021 15:01 WIB

4 Fakta Singapura 'Lockdown' di Tengah Wacana Berdamai dengan Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19, yang rencananya tak lagi fokus terkait kasus harian COVID-19, melainkan fokus menggencarkan tracing dan testing.

"Berapa banyak yang sakit parah, berapa yang di ICU, berapa yang perlu diintubasi oksigen, dan sebagainya. Ini seperti bagaimana kita sekarang memantau influenza. Kita tidak dapat memberantasnya, tetapi kita dapat mengubah pandemi menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengancam, seperti influenza atau cacar air, dan melanjutkan hidup kita," tulis Menteri Perdagangan Singapura Gan Kim Yong, Menteri Keuangan Lawrence Wong, dan Menteri Kesehatan Ong Ye Kung, dalam opininya di Straits Times beberapa waktu lalu.

Kini, catatan kasus COVID-19 Singapura melambung tinggi, terbanyak sejak 11 bulan lalu, yaitu 195 kasus harian Corona per Selasa (20/7/2021) berdasarkan laporan Worldometers. Berikut fakta-faktanya dirangkum detikcom dari berbagai sumber.

1. Banyak klaster COVID-19

Dikutip dari Channel News Asia, Singapura kembali memperketat pembatasan COVID-19 lantaran munculnya klaster-klaster baru Corona yang berdampak pada populasi yang lebih luas. Situasi di Singapura saat ini masuk kategori fase II (peringatan tinggi).

"Ini sangat memprihatinkan, karena dapat mempengaruhi banyak orang di komunitas kami di seluruh pulau," kata Departemen kesehatan Singapura dalam siaran persnya.

"Gelombang infeksi saat ini mempengaruhi spektrum populasi yang lebih luas termasuk banyak manula," sambung Depkes.

2. 'Lockdown' selama sebulan

Pembatasan ketat akan diterapkan selama sebulan, terhitung dari 22 Juli hingga 18 Agustus mendatang. Di situasi fase II (peringatan tinggi) tidak lagi diperbolehkan dine-in dan aktivitas sosial atau pertemuan hanya dibatasi maksimal dua orang, dari semula 5 orang.

"Langkah-langkah itu akan berlaku mulai Kamis (22 Juli) hingga 18 Agustus dan akan menggantikan langkah-langkah yang diperkenalkan pada hari Senin," kata Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) dalam siaran pers.

Namun pemerintah setempat akan meninjau langkah-langkah pembatasan terkait dengan perkembangan situasi kasus COVID-19. Aturan yang berlaku

3. Kasus COVID-19 banyak dari yang belum divaksinasi

Nyaris separuh populasi Singapura sudah menerima vaksinasi COVID-19 lengkap atau dua dosis. Namun beberapa di antara mereka yang belum menerima vaksin COVID-19 termasuk lansia menjadi kelompok paling rentan saat ini.

"Ini membuat mereka berisiko lebih tinggi terinfeksi, dan berisiko lebih tinggi sakit parah jika terinfeksi," jelas Kementerian Kesehatan Singapura.

Ketua Satgas COVID-19 Gan Kim Yong menilai usia 60 tahun ke atas paling banyak terpapar dari klaster-klaster baru COVID-19 yang tercatat.

"Secara khusus, dari lansia berusia 60 tahun ke atas yang terinfeksi selama tujuh hari terakhir, 12 tidak divaksinasi," jelas dia.

"Ini sangat mengkhawatirkan kami, karena hampir 30 persen dari populasi lansia di atas 70 tahun tetap tidak divaksinasi," kata Gan.

Lantas bagaimana nasib hidup berdampingan dengan COVID-19? Simak faktanya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2