Rabu, 21 Jul 2021 16:47 WIB

Pakar IDI: Wafat saat Isoman Sudah 500 Lebih, Perbanyak RS Darurat!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Angka Kematian COVID di Indonesia Capai 70 Ribu, Ini Data Terbarunya Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Satgas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prof Zubairi Djoerban meminta pemerintah memperbanyak RS Darurat untuk pasien COVID-19 tanpa gejala hingga gejala ringan. Pasalnya, banyak di antara mereka yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri.

"Yang isoman dan yang meninggal sudah 500 ribu lebih, artinya cukup banyak yang sakit saat isoman sebetulnya harus dirawat di RS," jelasnya dalam diskusi daring di RMOL, Rabu (21/7/2021).

"Sehingga tidak cukup pengobatan di rumah. Maka RS Darurat harus segera dibuka, harus segera dibangun, ditambah lagi," sambung dia.

Meski begitu, Prof Zubairi mengapresiasi langkah pemerintah terkait ketersediaan sejumlah RS darurat sejauh ini, seperti di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur hingga rencana JIExpo Kemayoran sebagai tempat isolasi pusat dengan kapasitas 20 ribu bed pasien COVID-19.

"Asrama haji, rumah susun, itu segera manfaatkan agar angka kematian yang isoman harus segera turun drastis. Karena itu secara psikologis dapat mempengaruhi kita semua," katanya.

Lebih lanjut, Prof Zubairi juga menyoroti jumlah dokter yang wafat akibat COVID-19 hingga keterisian bed atau bed occupancy rate (BOR) yang masih tinggi di sejumlah rumah sakit. Pasalnya, batas aman BOR menurut pedoman WHO adalah 60 persen.

"Sepekan terakhir masih di puncak dunia, sehingga RS masih penuh, yang meninggal saat isoman masih banyak. Dokter yang meninggal dalam dua minggu di Juli lebih dari 100 ribu orang," jelas Prof Zubairi sembari menyoroti alasan PPKM Darurat yang kini berubah nama menjadi PPKM Level 3 dan 4, penting diperpanjang.



Simak Video "ASI Bisa Bantu Transfer Antibodi COVID-19 ke Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)