Jumat, 23 Jul 2021 04:59 WIB

Pria Cimahi Bikin Oxygen Maker di Tengah Kelangkaan Tabung Oksigen

Whisnu Pradana - detikHealth
oksigen Foto: Whisnu Pradana
Cimahi -

Kelangkaan oksigen yang terjadi beberapa pekan belakangan belum juga teratasi. Namun setidaknya kondisi tersebut memunculkan orang-orang kreatif dan berjiwa sosial tinggi yang tergerak membantu sesama.

Hal itu yang terus dilakukan Setiawan Hendra, warga Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat yang saat ini tengah getol membuat oxygen maker bagi orang yang membutuhkan oksigen.

Beberapa waktu lalu pria 38 tahun itu sudah menciptakan oxygen maker generasi 1. Kini Setiawan sudah membuat lagi oxygen maker generasi 2 yang diklaimnya lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Tentu tak menghilangkan fungsi utamanya sebagai alat penghasil oksigen.

Ditemui di ruang kerjanya di Jalan Mahar Martanegara, Kota Cimahi, Setiawan menunjukkan oxygen maker generasi 2 yang penampakannya lebih baik ketimbang generasi pendahulunya lantaran sudah memiliki casing dengan kerangka besi berbentuk persegi.

Di dalam casing tersebut terdapat alat penghasil oksigen yang sudah dirakitnya. Oxygen maker tersebut terdiri dari oxymeter, storage tank untuk menampung oksigen, saklar pneumatik yang berfungsi mengalirkan oksigen dan udara lainnya, filter zeolite, dan serta pipa exchanger yang biasa ditemukan dalam AC atau sistem pendingin udara. Lalu ia memasang hepafilter di kedua sisi untuk menyaring udara dari oksigen dan kandungan lainnya.

Setiawan menjelaskan ia melakukan perubahan yang mendasar baik dari segi desain maupun sistem kerja oxygen meter generasi 2 dibanding dengan generasi 1. Paling terlihat yakni dari pengoperasiannya yang lebih sistematis.

"Jadi kalau generasi pertama itu sistem kerjanya kimia karena ada perubahan molekul. Kalau yang kedua itu filtrasi udara. Jadi alat ini menjebak udara lalu dikumpulkan tapi dipisahkan antara oksigen yang 21 persen dengan 79 persen kandungan lainnya. Yang diambil oksigen murninya," ungkap Setiawan kepada detikcom, Kamis (22/7/2021).


Setiawan menyebut perakitan oxygen maker generasi 2 tak membutuhkan waktu lama dan biaya yang terlalu besar. Mengingat semua partnya menggunakan alat dari pendingin udara meskipun sebagiannya tetap perlu diimpor demi menjaga kualitas.

"Sebetulnya part yang dipakai itu dari alat AC tapi kemudian saya sulap jadi alat oxygen maker ini. Cuma kalau filter zeolite saya pilih impor demi menjaga kualitas. Saya keluar modal sekitar Rp 8 juta. Tapi kalau mau beli yang sistem kerjanya hampir sama, mungkin bisa sampai Rp 90 juta," tutur Setiawan.

Alat tersebut sudah melalui serangkaian ujicoba hingga akhirnya bisa digunakan oleh pasien terpapar COVID-19 yang benar-benar membutuhkan oksigen.

Satu unit oxygen maker generasi 2 yang dibuatnya bisa menampung sebanyak 20 liter per menit (LPM) oksigen. Keuntungannya alat tersebut tak membutuhkan isi ulang cairan elektrolisis seperti pada generasi 1.

"Sudah dites beberapa kali dan dinyatakan layak. Alat ini bisa menaikkan kadar oksigen yang sebelumnya drop jadi meningkat beberapa persen. Karena kita tahu semua yang terpapar COVID-19 itu rata-rata butuh oksigen, biasanya saturasi mereka turun di bawah 90," ujar Setiawan.

Setiawan berharap alat tersebut bisa dilirik oleh pemerintah maupun instansi lain yang bertanggungjawab pada penyediaan oksigen bagi pasien yang mengalami penurunan saturasi, terutama yang terpapar COVID-19.

"Jadi alat ini untuk membantu pasien yang urgen mendapatkan oksigen sebelum dapat ruang perawatan dengan oksigennya. Sampai hari ini sudah puluhan orang yang pakai, dalam sehari bisa 200 orang yang menghubungi saya, tapi kan tidak bisa difasilitasi semua karena harus oper sana sini. Jadi saya inginnya alat ini bisa diproduksi massal atau disimpan di satu tempat, silakan datang ke situ kalau membutuhkan," pungkasnya.



Simak Video "Langkah Pemerintah Hadapi Permintaan Oksigen 3.000 Ton"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)