Jumat, 23 Jul 2021 10:19 WIB

Kematian akibat COVID-19 RI Naik Terus, Ini Penyebabnya Menurut IDI

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus harian COVID-19 di Indonesia bertambah 54.000 kasus. Total ada 2.780.803 kasus positif COVID-19 di RI dengan 504.915 di antaranya merupakan kasus aktif. Ilustrasi. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Indonesia mencatat rekor penambahan kasus kematian akibat COVID-19 sebanyak 1.449 kasus pada Kamis (22/4/2021), sehingga total kematian menjadi 79.032. Dalam sepekan, tercatat beberapa kali jumlah kematian tembus angka sejuta, dan bahkan beberapa kali mencatatkan rekor tertinggi.

Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih menjelaskan, terdapat 5 gradasi kondisi pasien COVID-19 yakni tak bergejala (OTG), bergejala ringan, sedang, berat, dan kritis. Pada dasarnya, pasien yang diperbolehkan menjalani isolasi mandiri hanyalah pasien tanpa gejala dan bergejala ringan. Selebihnya, gejala sedang, berat, hingga kritis wajib dirawat di rumah sakit.

Namun kini lantaran sejumlah rumah sakit tak lagi sanggup menampung pasien COVID-19, banyak pasien COVID-19 bergejala berat harus isoman dan tak bisa beroleh penanganan tepat. Hal inilah penyebab utama tingginya kematian di RI akibat COVID-19.

"Untuk gejala sedang, itu sudah tidak boleh isoman, itu harus ke rumah sakit. Sekarang banyaknya yang meninggal yang kita dengar isoman memang karena pertama, kita harus terbuka saja, banyak yang mestinya harus dirawat di rumah sakit dengan saturasi di bawah 94 (persen), bahkan mungkin saturasinya rendah sekali 80-70 itu karena tidak dapat kamar, terpaksa dirawat di rumah," terang dr Daeng dalam diskusi daring, Kamis (22/7/2021).

"Ini memang berat sekali kita hadapi karena seharusnya dirawat di rumah sakit, dia terpaksa dirawat di rumah. Sebenarnya bukan kriteria isoman, tapi terpaksa di rumah karena nggak ada tempat di rumah sakit," lanjutnya.

Kasus kematian pada pasien COVID-19 bergejala ringan

Menurut dr Daeng, ada juga kasus kematian akibat COVID-19 pada pasien bergejala ringan, namun jumlahnya tidak banyak. Penyebabnya yakni kurang pemantauan pada pasien isoman sehingga ketika kondisinya menurun, tak ada penanganan tepat dari rumah sakit.

"OTG dan (gejala) ringan apakah ada kasus meninggal? Ada juga, meskipun tidak banyak. Karena apa? Karena dia jatuh, terjadi perburukan. Mungkin yang bersangkutan isoman, atau pendamping isoman tidak mengerti bahwa dia sudah lebih buruk, harusnya ke rumah sakit, (tapi) dia tetap dirawat di rumah," jelasnya.

dr Daeng menjelaskan, umumnya tanda pertama pasien COVID-19 isoman perlu dibawa ke rumah sakit adalah muncul gangguan pernapasan seperti napas cepat dan pendek. Bisa jadi, kondisi ini menandakan pneumoni sehingga sesegera mungkin pasien harus diberi penanganan rumah sakit.



Simak Video "Perlukah Tes COVID-19 Ulang Usai 14 Hari Isoman?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)