Jumat, 23 Jul 2021 11:36 WIB

Studi: Jarak 8 Minggu antar Dosis Vaksin Pfizer Picu Antibodi Lebih Tinggi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Sebuah penelitian di Inggris menemukan jarak penyuntikan atau masa interval berpengaruh pada efektivitas vaksin. Mereka mengatakan bahwa dengan jarak 8-10 minggu antara dosis pertama dan kedua bisa meningkatkan efektivitas vaksin, terutama pada vaksin Pfizer.

"Delapan minggu mungkin adalah ketentuan yang tepat. Dengan begitu, akan semakin banyak populasi yang divaksinasi untuk menghasilkan tingkat antibodi yang lebih tinggi," kata pemimpin studi dari Universitas Oxford, Profesor Susanna Dunachie, dikutip dari Bloomberg, Jumat (23/7/2021).

Perubahan jarak penyuntikan ini dilatarbelakangi melonjaknya kasus COVID-19 selama beberapa pekan terakhir di Inggris akibat varian Delta. Hal itu memicu perdebatan apakah pemerintah harus memperpendek masa interval yang sebelumnya direkomendasikan 12 minggu menjadi 8 minggu.

"Studi terbaru ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa (masa) interval ini menghasilkan respons kekebalan yang kuat dan mendukung keputusan kami," kata Menteri Vaksin Inggris Nadhim Zahawi.

Dalam penelitian tersebut, respon imun yang diberikan vaksin Pfizer mulai terlihat dalam jarak penyuntikan 3-10 minggu. Meski begitu, vaksin tersebut tetap memberikan reaksi yang kuat, baik dengan rentang waktu pendek maupun lebih panjang.

Pada jarak penyuntikan 10 minggu, antibodi penetralisir akan meningkat dua kali lipat terhadap semua varian Corona yang diuji, termasuk varian Delta. Hal itu juga meningkatkan respons sel T yang mendukung memori kekebalan.

Namun, jarak penyuntikan yang lebih lama juga memiliki kelemahan. Menurut studi, itu bisa menyebabkan penurunan tingkat antibodi antara dosis pertama dan kedua, khususnya terhadap varian Delta.

Maka dari itu, para ilmuwan berpendapat untuk memperpendek jarak penyuntikan antara dosis pertama dan kedua. Hal itu dilakukan demi memberikan perlindungan yang kuat terhadap COVID-19.



Simak Video "Indonesia Terima 2,6 Juta Vaksin Pfizer dari Amerika Serikat"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)