Sabtu, 24 Jul 2021 10:16 WIB

Tak Semua Pasien COVID-19 Bisa Isoman, Kapan Harus ke RS?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Woman hand introduced in a oximeter to check oxygen levels and pulse because Covid-19 pandemic Foto: Getty Images/iStockphoto/Juanmonino
Jakarta -

Tidak semua pasien COVID-19 bisa isolasi mandiri (isoman), hanya yang ringan atau tak bergejala yang dianjurkan. Pada kondisi tertentu, sebaiknya memang mencari pertolongan medis ke rumah sakit.

Apa saja tandanya pasien COVID-19 harus ke rumah sakit? Praktisi kesehatan dari Siloam Hospital Karawaci dr Vito A Damay, SpJP menjelaskan beberapa kondisi yang menandakan pasien COVID-19 sebaiknya ke rumah sakit.

1. Pernapasan tinggi

Menurut dr Vito, frekuensi pernapasan manusia normalnya 12-20 kali permenit dalam kondisi istirahat. Jika melebihi 24 kali permenit, maka sebaiknya pasien COVID-19 pergi ke rumah sakit.

2. Saturasi turun

Oximeter untuk mengukur saturasi oksigen menjadi perlengkapan wajib bagi pasien COVID-19, termasuk yang menjalani isolasi mandiri. Pasien COVID-19 yang mengalami happy hypoxia bisa mengalami kekurangan oksigen tanpa merasakan gejala apapun.

"Kekurangan oksigen, tapi nggak kerasa. Maka namanya happy hypoxia," jelas dr Vito.

Pada kondisi ini, seseorang tidak merasakan sesak napas meski kadar oksigen dalam darah sudah turun. Karenanya, jika saturasi oksigen sudah di bawah 95 persen, disarankan untuk ke rumah sakit meski tidak merasa sesak.

3. Detak jantung naik

Denyut jantung di atas 120 bpm (beat per minute) juga menandakan kondisi yang harus diwaspadai. Jika memungkinkan, sebaiknya ke rumah sakit.

4. Kondisi lain

Beberapa kondisi yang juga sebaiknya diperhatikan adalah mual-muntah, serta demam yang tidak turun-turun.



Simak Video "Seberapa Penting Oximeter untuk Pasien Isoman COVID-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/naf)