Sabtu, 24 Jul 2021 12:45 WIB

Peneliti Vaksin Nusantara Angkat Bicara: Bukan Diakui Dunia, Tapi Dilirik

Tim detikHealth - detikHealth
Menkes Terawan Agus Putranto (Andhika Prasetia/detikcom) Foto: Menkes Terawan Agus Putranto (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Vaksin Nusantara besutan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kembali bikin heboh. Kali ini, muncul narasi viral vaksin Nusantara diakui dunia yang belakangan dipastikan keliru.

Peneliti utama vaksin Nusantara Johnny juga mengaku jurnal Pubmed yang disebut-sebut menjadi penilaian vaksin Nusantara diakui dunia bukan merupakan hasil uji klinis vaksin dendritik. Jurnal tersebut hanya menyimpulkan sebuah dugaan kemungkinan efektivitas teknologi dendritik untuk vaksin COVID-19.

Meski begitu, kata Johnny, hal tersebut menandakan teknologi dendritik yang dipakai dalam vaksin Nusantara sudah dilirik dunia.

"Bukan diakui dunia seperti disetujui WHO, itu sudah dipublish di jurnal PubMed kan, jurnal international, artinya sudah dilirik dunia lah," demikian jelas Johnny saat dihubungi detikcom Sabtu (24/7/2021).

Lebih lanjut, dirinya sekaligus mengklarifikasi kejadian tidak diinginkan (KTD) dari fase I yang pernah disoroti publik. Menurutnya, KTD pasca vaksinasi dendritik Nusantara terbilang ringan, bahkan lebih ringan dibandingkan vaksin COVID-19 lainnya.

Adapun KTD yang dilaporkan adalah seperti berikut.

Pegal: 17 orang
Memar: 3 orang
Kemerahan: 3 orang
Gatal: 1 orang

Terkait status vaksin Nusantara kini, diakui Johnny hanya sebagai penelitian berbasis pelayanan. Hal tersebut sesuai dengan Mou Nota Kesepahaman bersama Kementerian Kesehatan RI, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan TNI AD.

"Kan sesuai MoU Nota Kesepahaman itu kami masih menunggu lah, kami nggak bisa lanjut ke Fase tiga," kata dia sembari menegaskan jika uji klinis Fase II vaksin Nusantara dilakukan sebelum ada MoU Nota Kesepahaman.



Simak Video "Lihat Lagi Klaim Terawan Soal Vaksin Nusantara Diakui Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)