Selasa, 27 Jul 2021 10:01 WIB

COVID-19 Diprediksi Tak Akan Hilang, Ini Gambaran Hidup Bersama Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Bangkok, Thailand - Mar 2020 : Crowd of unrecognizable business people wearing surgical mask for prevent coronavirus Outbreak in rush hour working day on March 18, 2020 at Bangkok transportation Foto: Getty Images/Tzido
Jakarta -

Pandemi COVID-19 tak kunjung usai, sudah lebih dari 185 juta orang di dunia terinfeksi COVID-19. Sementara, angka kematian COVID-19 dunia mencapai 4 juta kasus.

Ada harapan kuat vaksinasi COVID-19 bisa mengembalikan situasi normal sebelum pandemi. Namun, para ilmuwan meyakini virus Corona tidak akan benar-benar hilang.

Dikutip dari BBC, jurnal ilmiah Nature Januari lalu bertanya pada lebih dari 100 pakar imunologi, ahli virologi, dan pakar kesehatan lain di seluruh dunia apakah COVID-19 akan hilang.

Hampir 90 persen dari mereka menjawab tidak. "Ada bukti bahwa virus Corona kemungkinan akan menjadi endemik dan terus beredar di seluruh dunia," jelas para peneliti.

Jadi bagaimana gambarannya jika kita harus hidup bersama COVID-19?

Pakar menjelaskan 'pemberantasan' penyakit menular adalah fenomena langka. Faktanya, hingga kini WHO secara resmi menyatakan hanya dua penyakit menular yang berhasil 'diberantas' yaitu virus cacar dan rinderpest.

Salah satu strategi memberantas cacar kala itu melalui pengembangan vaksin yang memutus rantai penularan. Sayangnya, vaksin COVID-19 yang dikembangkan sejauh ini belum bisa menghentikan kemungkinan terpapar tetapi bisa membuat gejala lebih ringan saat terinfeksi.

"Vaksin yang kita miliki saat ini, dalam beberapa kasus, tidak mencegah infeksi. Vaksin hanya mengubah infeksi dan membuat penyakit tidak terlalu serius. Orang yang divaksinasi masih dapat menularkan virus ke orang lain," kata David Heymann, profesor penyakit menular, epidemiologi, di London School of London School of Health and Tropical Medicine.

Paul Hunter, profesor kedokteran di University of East Anglia (UK), juga memiliki pandangan tersebut. Bahkan, ia percaya vaksin tidak akan menghentikan orang dari penularan COVID-19 di masa depan.

"Covid tidak akan pernah pergi," jelas dia.

Lalu akan seperti apa COVID-19 di masa depan?

Profesor Heymann adalah salah satu dari banyak ahli yang percaya bahwa COVID-19 akan menjadi penyakit endemik, yang berarti akan terus beredar di antara populasi dunia selama bertahun-tahun yang akan datang.

"Ini bukan hal baru, virus flu dan empat virus Corona yang menyebabkan pilek, misalnya, merajalela. WHO memperkirakan bahwa 290.000 hingga 650.000 orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena penyebab terkait influenza," tuturnya.

"Tetapi penyakit-penyakit ini telah dapat dikendalikan, dengan jumlah kematian yang telah diperhitungkan."

Kasus COVID-19 parah akan semakin sedikit

Meski disebut tak akan pernah hilang, kasus COVID-19 parah maupun yang perlu perawatan RS dinilai ilmuwan akan semakin sedikit. Sebab, sudah banyak warga yang memiliki antibodi COVID-19 baik secara vaksinasi maupun infeksi alami.

"Masalahnya, kita masih belum tahu apakah virus ini benar-benar akan berperilaku seperti ini. Virus ini "sangat tidak stabil," jelas Prof Heymann.

"Ketika virus ini bereplikasi dalam sel manusia, ia bermutasi dari waktu ke waktu. Dan beberapa mutasi ini menjadi perhatian," sambungnya.

Lantas bagaimana cara melindungi diri dari COVID-19? Perlukah vaksinasi booster? Simak di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Menakar Probabilitas Level Covid-19 RI Turun dari Pandemi ke Endemi"
[Gambas:Video 20detik]