Rabu, 28 Jul 2021 10:33 WIB

Viral Tes PCR Disebut Tak Bisa Bedakan COVID-19 Vs Flu, Ini Faktanya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Penumpang bus AKAP yang akan mudik dan kembali dari kampung halaman antre menjalani tes cepat antigen di Terminal Terpadu Pulo Gebang,  Jakarta Timur, Selasa (18/5/2021). Penumpang yang hasil tesnya reaktif wajib menjalani isolasi mandiri di ruangan yang disediakan di terminal sebelum menjalani tes usap PCR dan dibawa ke rumah sakit bila positif Covid-19. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Viral postingan di media sosial menyalahartikan pengumuman Pusat dan Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) soal penarikan izin testing COVID-19 polymerase chain reaction (PCR). Hoax yang viral menyebut izin penggunaan darurat (EUA) tes COVID-19 PCR dicabut lantaran tak bisa membedakan infeksi COVID-19 dan influenza.

Faktanya, rencana pencabutan izin tes PCR yang dimaksud bukan PCR secara umum dan narasi tidak bisa membedakan infeksi COVID-19 dan influenza keliru. Tes PCR COVID-19 CDC yaitu: CDC RT-PCR for SARS-CoV-2 Testing mulanya dikembangkan untuk mengidentifikasi infeksi virus Corona baru, meskipun di awal peluncuran tes dihadapi beberapa masalah.

Tes PCR mereka mendorong laboratorium untuk mempertimbangkan adopsi metode multipleks yang dapat memfasilitasi deteksi dan diferensiasi virus SARS-CoV-2 dan influenza. Tes multipleks semacam itu, dapat mencari virus Corona baru dan beberapa jenis influenza secara bersamaan, yang menghemat bahan pengujian dan memungkinkan laboratorium kesehatan masyarakat melakukan pengawasan influenza saat menguji SARS-CoV-2, atau virus penyebab COVID-19. Bukan tidak bisa membedakan COVID-19 dan influenza.

Lagi-lagi, CDC tidak mengatakan bahwa mereka tidak lagi mendukung penggunaan tes PCR secara umum, banyak di antaranya telah disetujui oleh FDA. Dipastikan, tes PCR untuk SARS-CoV-2 yang kemudian disebut tidak dapat membedakan antara virus corona COVID-19 dan influenza di medsos adalah hoax.

"Seperti yang kami katakan, pengumuman yang dimaksud berasal dari CDC dan tentang rencana penghentian tesnya sendiri. Hal ini masih digunakan saat ini. FDA tidak mencabut otorisasi penggunaan darurat tes CDC atau mempertanyakan keandalan tes PCR," jelas juru bicara FDA, Jim McKinney, dikutip dari FactCheck.org.

Para ilmuwan hingga kini menilai tes PCR adalah alat diagnostik yang andal dan spesifik meneliti COVID-19. Situs web FDA mencantumkan banyak tes PCR untuk COVID-19 yang telah dikeluarkan otorisasi penggunaan darurat.

"FDA telah mengizinkan lebih dari 380 tes dan alat pengumpulan sampel untuk mendiagnosis COVID-19, banyak di antaranya adalah tes PCR. Tes PCR umumnya dianggap sebagai 'gold standard' untuk diagnosis COVID-19," lanjut Jim McKinney.

"FDA belum mengeluarkan pernyataan yang mempertanyakan keandalan hasil tes PCR secara umum dan akan terus mempertimbangkan otorisasi untuk tes PCR yang divalidasi," tambahnya.

Berikut cuitan beberapa hoax yang viral di media sosial.

"Big News-CDC menarik tes PCR dari FDA EUA. Ketidakmampuan untuk membedakan COVID-19 dari Influenza adalah alasan pertama," cuitan sebuah postingan di Facebook 26 Juli.

"FDA mengumumkan hari ini bahwa tes PCR CDC untuk COVID-19 telah gagal ditinjau secara penuh. Otorisasi Penggunaan Darurat telah Dicabut," demikian Tweet 23 Juli dari "UK Medical Freedom" yang akhirnya dicabut.

Dua hari kemudian, pada 25 Juli, seorang pemilik gym kontroversial di New Jersey, Ian Smith, juga memposting tweet viral. "FDA mengonfirmasi tes PCR tidak akurat untuk menguji COVID." Dia menyebut COVID-19 sebagai 'pandemi buatan'.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)