Rabu, 28 Jul 2021 13:12 WIB

Kemenkes: 90 Persen Pasien Corona yang Sudah Vaksin Berhasil Sembuh

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Anak-anak usia 12-17 tahun mengikuti vaksinasi COVID-19 di kawasan Ancol, Jakarta, Sabtu (24/7). Program vaksinasi ini untuk memperingati Hari Anak Nasional. Vaksinasi COVID-19. (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan Ri, dr Siti Nadia Tarmizi, memastikan jenis vaksin COVID-19 apa pun masih sangat efektif dalam melawan virus Corona, termasuk varian Delta (B1617.2). Orang yang sudah divaksinasi juga memiliki peluang lebih besar untuk sembuh dari penyakit ini.

Berdasarkan data terbaru, 90 persen pasien yang telah mendapat vaksin COVID-19 dosis pertama berhasil sembuh dari infeksi virus Corona.

"Dari data klaim perawatan COVID-19 di rumah sakit periode Mei-Juli 2021, efek perlindungan vaksin itu terhadap pasien COVID-19 yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap atau sudah mendapat dua dosis, ini betul-betul bisa melindungi risiko kematian hingga 73 persen," kata dr Nadia dalam diskusi yang disiarkan Forum Merdeka Barat 9, Selasa (27/7/2021).

"Kemudian kalau pasien COVID-19 yang sebelumnya mendapatkan dosis pertama 90 persennya ini sembuh ya. Dan dari 96 persen yang mendapatkan vaksin dosis secara lengkap itu sembuh dari COVID-19. Sementara kalau kita lihat yang belum mendapatkan vaksinasi sama sekali itu hanya 84 persen yang sembuh," tambahnya.

dr Nadia mengatakan hingga saat ini belum ada satu pun jurnal medis yang mengatakan vaksin COVID-19 sudah tidak efektif lagi. Maka dari itu, ia mengajak masyarakat untuk segera divaksinasi agar herd immunity dapat terbentuk.

"Malah WHO mengatakan, 'ayo kita percepat vaksinasi supaya kekebalan kelompok itu terjadi'. Dengan percepatan vaksinasi, orang yang tertular akan makin sedikit dan tentunya mutasi atau varian baru itu bisa kita cegah untuk muncul," ujarnya.

Bukti nyata efektivitas vaksin Sinovac dan AstraZeneca

dr Nadia juga menjelaskan tentang efektivitas vaksin COVID-19 yang dipakai di Indonesia, seperti vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Menurut jurnal di Inggris, vaksin AstraZeneca dapat mencegah kita dari risiko dirawat di rumah sakit akibat infeksi varian Delta.

"Dengan dua dosis vaksin AstraZeneca itu untuk mencegah risiko kita untuk dirawat di rumah sakit akibat varian Delta bisa sampai dengan 92 persen, bahkan tidak ada kematian akibat mereka yang divaksinasi dengan AstraZeneca ini," jelasnya.

"Juga kita ketahui dari beberapa laporan rumah sakit bahwa dengan dua dosis vaksin Sinovac itu penularannya itu bisa turun sampai dengan 94 persen. Dan mencegah kita untuk dirawat di rumah sakit itu sebanyak 96 persen dan menghindari kematian itu 98 persen," lanjutnya.

Meski demikian, dr Nadia mengatakan vaksin COVID-19 tidak akan memberikan perlindungan 100 persen terhadap virus Corona. Orang yang sudah divaksinasi masih sangat mungkin untuk terpapar COVID-19, karena prinsip kerja vaksin adalah untuk melatih sistem kekebalan tubuh seseorang.

"Jadi kalau sistem kekebalan tubuh kita latihannya makin baiknya pasti akan memberikan hasil yang baik juga. Sama seperti misalnya atlet kita nih yang sedang bertanding di Olimpiade, latihannya kemarin itu luar biasa, pasti akan mencetak prestasi dan menang di ajang-ajang pertandingan," ucap dr Nadia.

"Ini sama. Kalau sistem imunitas kita respons-nya sangat baik, maka pada sebagian orang walaupun tertular sama sekali tidak menjadi sakit. Kemudian gejala yang berat maupun kematian sangat bisa dihindari," tuturnya.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)