Kamis, 29 Jul 2021 15:04 WIB

Pesaing Lifter Windy Diduga Doping, Bagaimana Cara Mengeceknya?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
barbell with green and red plates on platform for powerlifting Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/sportpoint
Jakarta -

Penggunaan doping menjadi suatu hal yang 'haram' bagi para atlet yang bertanding di ajang olahraga internasional, seperti Olimpiade. Pasalnya, selain dapat meningkatkan performa, penggunaan doping juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Baru-baru ini kasus dugaan penggunaan doping terjadi di Olimpiade 2020, Tokyo, Jepang. Pesaing Windy Cantika Aisah, atlet angkat besi peraih medali emas dari China, Hou Zhihui, diduga menggunakan doping.

Aturan larangan penggunaan doping ini diawasi oleh Badan Anti-Doping Dunia (WADA). Sebelumnya Rusia juga pernah terlibat kasus doping setelah dinilai bersalah karena gagal memberikan data tes narkoba otentik yang diminta oleh WADA.

Sebenarnya doping itu apa sih?

Dikutip dari BBC, doping adalah zat terlarang yang dikonsumsi oleh atlet untuk menunjang performanya. Zat ini biasa disebut sebagai Performance Enhancing Drugs (PED).

Meski memiliki fungsi untuk meningkatkan performa, doping bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Maka dari itu, doping dilarang oleh badan pengatur olahraga.

Tes anti-doping

Dikutip dari laman Olympics, ada dua jenis tes anti-doping: urin dan darah. Setelah sampel dikumpulkan, sampel dikirim ke laboratorium terakreditasi WADA (World Anti-Doping Code) untuk dianalisis. Mereka tidak pernah tahu sampel siapa yang mereka miliki, karena sifatnya anonim.

Spesialis pengumpulan sampel dikenal sebagai Petugas Kontrol Doping (DCO). Ketika darah diperlukan, sampel akan diambil oleh seorang spesialis yang dikenal sebagai Petugas Pengumpul Darah (BCO) yang merupakan pemegang lisensi medis profesional yang terlatih khusus.

Seorang 'pendamping' akan memberitahu atlet yang dipilih untuk kontrol doping dan akan memantau semua kegiatan yang dilakukan oleh atlet sampai proses pengambilan sampel. Pada Olimpiade Tokyo 2020, para relawan akan berperan sebagai pendamping.

Meskipun pendamping tidak memiliki kualifikasi spesialis, DCO dan BCO diwajibkan untuk menghadiri kuliah dan sesi pelatihan yang disediakan oleh Badan Anti-Doping Jepang (JADA) dan memperoleh sertifikasi resmi.



Simak Video "Pandemi Corona, Taufik Hidayat Ingatkan Atlet Indonesia di Olimpiade Jaga Kesehatan"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)