Kamis, 29 Jul 2021 16:57 WIB

Satgas: Tak Pasti Kapan Usai, RI Harus Siap Hidup Berdampingan dengan Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus harian COVID-19 di Indonesia bertambah 54.000 kasus. Total ada 2.780.803 kasus positif COVID-19 di RI dengan 504.915 di antaranya merupakan kasus aktif. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Satgas COVID-19 memastikan masyarakat Indonesia harus bersiap hidup berdampingan dengan Corona. Terlebih, hingga kini belum ada perkiraan pasti kapan pandemi COVID-19 akan berakhir, usai berjalan lebih dari satu setengah tahun.

"Beberapa negara yang sudah tadinya melepas lockdown, akhirnya kembali lagi pada lockdown, maka sudah sewajarnya lah diri kita mempersiapkan diri hidup berdampingan dengan COVID-19, seperti pada waktu dulu ada Flu Spanyol yang ada di RI juga yang sampai dengan 100 tahun," tutur dr Kusmedi Priharto SpOT Mkes Kasubbid Tracing Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 dalam konferensi pers live BNPB Kamis (29/7/2021).

"Akhirnya masyarakat bagaimanapun juga harus beradaptasi dengan berbagai kehidupan yang berhubungan dengan masalah penularan daripada COVID-19 ini sendiri," sambungnya.

Menurut dr Kusmedi, 'alat perang' melawan COVID-19 cukup dengan menjaga daya tahan tubuh. Salah satunya tentu dengan menjalani vaksinasi COVID-19.

Vaksinasi COVID-19 ditekankan bukan untuk membunuh virus tetapi meningkatkan proteksi atau daya tahan tubuh seseorang melawan virus COVID-19. Proteksi akan lebih kuat jika ditambah kedisiplinan menjalani protokol kesehatan menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan.

"Kalau masing-masing menggunakan masker yang baik, kemudian salah satu dari kita sakit, kalau kita menjaga jarak 2 meter lebih dan kita senantiasa mencuci tangan, penularan antara orang dengan orang itu hanya satu setengah sampai 2 persen," jelas dia.

"Kalau itu benar-benar kita pahami, maka kita akan bisa hidup berdampingan dengan COVID-19," pungkasnya.

Dirinya kembali mengingatkan, saat ini setiap orang berperang melawan virus yang media penularannya adalah manusia. Jika kedisiplinan protokol kesehatan tak kunjung menjadi perhatian, menurutnya akan sulit COVID-19 segera terkendali meski pemerintah sudah menggencarkan strategi pengendalian Corona.

"COVID-19 ini berbeda, virusnya seperti SARS-CoV-1 medianya itu unggas, ada flu babi media di antaranya babi, ada flu burung, media di antaranya flu burung kalau medianya itu dibasmi maka dia akan hilang penularannya," beber dia.

"Sedangkan pada SARS-CoV-2 ini medianya adalah head to head antara manusia dengan manusia sehingga kalau kita mau memutuskan kan tidak mungkin kita menghilangkan manusia, jadi semua tergantung kita dalam mencegah penularannya, kalau perilaku kita baik maka angkanya akan turun," pungkasnya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)