Kamis, 29 Jul 2021 15:45 WIB

Gegara Varian Delta, Krisis COVID-19 RI Disebut Baru Reda September

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas tenaga kesehatan melakukan swab antigen kepada pemudik di kawasan hunian vertikal Apartemen Gading Nias, Pengangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (20/5). Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara terakhir yang keluar dari krisis pandemi COVID-19. Ahli epidemiologi Universitas Griffith Dicky Budiman menyebut situasi krisis COVID-19 bisa bertahan lebih lama dengan munculnya COVID-19 varian Delta.

Setidaknya 10 hingga 12 minggu sejak Juni, krisis COVID-19 Indonesia baru bisa teratasi, dengan catatan strategi pengendalian COVID-19 seperti vaksinasi, testing, tracing, treatment, hingga kedisiplinan protokol kesehatan merata di Pulau Jawa hingga luar pulau Jawa.

"Jadi kalau dihitung dari Juni saja, setidaknya pertengahan September baru mulai mereda, nah itu strategi mitigasi harus disiapkan pemerintah," kata dia kepada detikcom Kamis (20/7/2021).

Dicky menegaskan prediksi tren kasus COVID-19 ke depan yang kerap ia analisis bertujuan untuk mengantisipasi perburukan wabah COVID-19 agar bisa segera teratasi. Seperti pengingat jika kasus Corona di Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan berpotensi lebih buruk.

"Seperti prediksi saya sebulan lalu, mendekati akhir Juli kita akan mencapai krisis situasi puncak dengan kasus infeksi 200 ribu per hari dan angka kematian 2 ribu per hari, dan itu terjadi," sebutnya.

Laporan kematian COVID-19 per Rabu (28/7/2021) memang menembus 2 ribu kasus, tetapi harian COVID-19 berada di 47 ribu kasus. Temuan 200 ribu kasus COVID-19 menurut Dicky baru bisa teridentifikasi saat jumlah testing COVID-19 terus ditingkatkan.

"Dan untuk diketahui semua prediksi-prediksi, analisis, proyeksi itu dimaksudkan untuk menyasar pengambilan keputusan sebagai dasar strategi mitigasi karena seharusnya estimasi-estimasi itu, sebagaimana saya di Australia juga diminta masukan, supaya prediksi itu tidak terjadi, tidak terbukti," pungkasnya.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)