Sabtu, 31 Jul 2021 15:00 WIB

Terpopuler Sepekan

Varian Delta Ngamuk di DKI-Jabar, Inikah Penyebabnya Mudah Menular?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Coronavirus Outbreak and Public Health Risk Disease, Lockdown and Quarantine, State Of Emergency Concepts Foto: Getty Images/iStockphoto/goc
Jakarta -

Kasus varian Corona berbahaya semakin meluas di Indonesia, salah satunya adalah varian Delta. Varian ini disebut sebagai salah satu pemicu melonjaknya kasus COVID-19 saat ini dan masih mendominasi.

Per Kamis (29/7/2021), jumlah akumulatif COVID-19 varian Delta yang ada saat ini mencapai 948 kasus. Kasus terbanyak varian Delta ini masih dipimpin DKI Jakarta dengan 303 kasus, disusul Jawa Barat 277 kasus, dan Jawa Tengah 164 kasus.

Namun, hingga kini penyebab varian Delta mudah menyebar masih belum diketahui. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengungkapnya, dengan harapan bisa menekan laju penularannya.

Kabar terbarunya, para ilmuwan dari pusat pencegahan dan pengendalian penyakit Guangdong, China, mempublikasi penelitiannya di Jurnal preprint Virological soal varian Delta.

Apa yang mereka temukan?

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengungkap dua fakta terbaru soal varian Delta atau B1617.2 yang pertama kali diidentifikasi di China. Mereka meyakini bahwa kedua temuan itu berhubungan dengan sifat varian Delta yang sangat mudah menular.

1. Viral load pasien varian Delta lebih tinggi

Penelitian menemukan bahwa viral load atau jumlah virus rata-rata pada pasien COVID-19 yang terinfeksi varian Delta 1.620 kali lebih tinggi dibandingkan Corona versi aslinya. Ini mengindikasi replikasi yang lebih cepat.

"Data ini menekankan bahwa varian Delta mungkin lebih menular pada tahap awal infeksi," tulis para ilmuwan yang dikutip dari Nature.

2. Cenderung mendapat hasil positif lebih awal dalam tes PCR

Pasien yang terinfeksi COVID-19 varian Delta juga cenderung mendapatkan hasil positif lebih awal, jika dibandingkan dengan varian aslinya dalam tes PCR (polymerase chain reaction).

"Kombinasi antara jumlah virus yang sangat tinggi dengan masa inkubasi yang pendek diyakini menjelaskan kenapa varian Delta lebih mudah menular," kata Benjamin Cowling, ahli epidemiologi dari University of Hong Kong.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)