Minggu, 01 Agu 2021 15:39 WIB

Sama-sama Bikin 'Heart Rate' Naik, Nonton Badminton Sehatnya Setara Olahraga?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Chinas Chen Long celebrates after scoring a point against Indonesias Anthony Sinisuka Ginting during their mens singles badminton semifinal match at the 2020 Summer Olympics, Sunday, Aug. 1, 2021, in Tokyo, Japan. (AP Photo/Dita Alangkara) Anthony Ginting dalam pertandingan Olimpiade Tokyo 2020. Foto: (AP/Dita Alangkara)
Jakarta -

Sama seperti saat olahraga beneran, deg-degan saat nonton badminton Olimpiade juga bikin heart rate alias denyut jantung naik. Kalau begitu, cukupkah menjaga kebugaran dengan rutin menonton pertandingan olahraga? Atau jangan-jangan, malah berdampak buruk karena tekanan darah terlalu tinggi?

Dokter spesialis kesehatan olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, menjelaskan bahwa peningkatan denyut jantung akan ikut menaikan tekanan darah. Sebab, jantung bekerja memompa darah, denyut nadi akan ikut naik. Karena ada tekanan dari pembuluh darah saat melalui otot, tekanan darah akan ikut naik.

Memang benar, peningkatan denyut jantung dan tensi ini kerap dialami penonton pertandingan olahraga. Bukan karena banyak gerakan fisik, kondisi ini dipicu oleh hormon adrenalin.

"Kita menonton sesuatu, tidak hanya kita melihat tapi kita juga berpikir. Tapi kan kita nggak gerak? Betul, kalau pun gerak mungkin karena ngambil combro. Kalau nontonnya di bioskop, ngambil popcorn, ngunyah," terang dr Michael pada detikcom, Minggu (1/8/2021).

"Itu nggak akan signifikan dalam menaikan tekanan darah, tapi kita masuk secara perasaan. Kita masuk secara emosi ke dalam pertandingan tersebut. Apa lagi kalau kita mempunyai hubungan erat dengan yang ada di layar," lanjutnya.

Jadi, nonton pertandingan olahraga manfaatnya sama dengan olahraga betulan?

Menurut dr Michael, olahraga betulan dan sekedar nonton pertandingan memang sama-sama menaikan denyut jantung. Namun karena perbedaan intensitas gerakan fisik dan durasi berlatih, deg-degan karena sekedar menonton pertandingan tak cukup untuk menjaga kebugaran.

Terlebih, pada orang awam dengan kondisi fisik yang tidak bugar, denyut jantung dan tensi terlalu tinggi justru bisa menimbulkan sederet bahaya hingga risiko kematian. Maka itu catatan penting dari dr Michael, kebiasaan ini perlu diseimbangi dengan olahraga betulan. Misalnya dengan jalan cepat, jogging, bersepeda, atau berenang.

"Mereka (atlet) terlatih. Ini yang membedakan atlet sudah main berkali-kali. Mungkin penonton pernah ada yang meninggal. Atletnya nggak meninggal-meninggal karena mereka sudah terlatih baik fisiknya, organ-organ termasuk jantungnya, paru-parunya, maupun emosinya," jelasnya.

"Orang-orang yang tidak bugar ini harus cukup melakukan olahraga yang benar. Olahraganya apa tuh? Olahraganya adalah yang bersifat aerobik untuk kesehatan jantung dan paru karena tidak cukup berdenyut jantungnya, tapi juga bernapas dengan baik," pungkas dr Michael.



Simak Video "Menkes Soroti Hipertensi yang Buat Banyak Rakyat RI Gagal Divaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)