Minggu, 01 Agu 2021 17:55 WIB

Fakta-fakta Penularan Varian Delta yang Disebut Secepat Cacar Air

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter
Jakarta -

Para pakar menyebut varian Delta sebagai varian COVID-19 yang sangat menular dan merupakan virus tercepat dan terkuat serta mudah menginfeksi orang-orang yang rentan, terutama di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi COVID-19 yang rendah.

Sebuah dokumen internal dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut varian Delta dapat menular secepat cacar air.

Sebelumnya, New York Times mengabarkan sebuah dokumen dari CDC yang menyebutkan varian Delta lebih menular daripada flu biasa, flu Spanyol 1918, cacar, Ebola, MERS, dan SARS bocor ke publik. Dalam dokumen itu, disebutkan varian Delta dapat menimbulkan penyakit yang lebih parah. Namun, belum ada data yang cukup untuk mendukung pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, CDC menduga orang yang telah divaksinasi, tetapi masih terinfeksi COVID-19 (breakthrough infection) berpotensi menularkan virus ke orang lain. Salah satu indikasi orang yang terinfeksi varian Delta dilaporkan memiliki viral load yang lebih tinggi dibanding orang yang terpapar jenis asli virus corona.

Penting diketahui bahwa vaksin COVID-19 masih tetap sangat efektif untuk melawan penyakit dan kematian yang diakibatkan oleh virus corona.

Varian Delta (B1617.2) pertama kali diidentifikasi pada Desember 2020 dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, termasuk di India, Inggris, dan Amerika Serikat. Para ilmuwan menyebutkan bahwa varian ini mampu menyebar hingga 60 persen lebih cepat daripada varian Alpha (B117 atau varian Inggris) yang menyebar 50 persen lebih cepat daripada virus corona varian asli.

"Saya percaya kasus penyakit menular lainnya turun selama setahun terakhir karena adanya tindakan pencegahan yang telah kami ambil, tetapi SARS-CoV-2 terus tumbuh. Hal itu menjadi indikasi yang jelas bahwa SARS-CoV-2 adalah virus yang paling menular yang saat ini beredar," ujar Dr Benjamin Neuman, kepala ahli virus di Texas A&M University, dikutip dari Healthline.

Berikut fakta-fakta sejauh ini yang diketahui terkait penularan varian delta yang disebut secepat cacar air.

Varian delta lebih menular

Dokter Sharon Nachman, spesialis penyakit menular pediatrik, mengatakan varian Delta diperkirakan 60 persen lebih menular daripada virus corona asli dan jauh lebih menular daripada flu dan setara dengan campak.

"Fakta bahwa COVID-19 terus menyebar dalam kondisi dimana flu hampir tidak terdeteksi menunjukkan seberapa banyak SARS-CoV-2 yang menular dibandingkan dengan virus influenza A dan B," kata Neuman.

Menurut CDC, campak sangat menular sehingga jika seseorang yang terinfeksi campak berinteraksi dengan orang yang kekebalan tubuhnya lemah, maka mereka memiliki peluang 90 persen untuk mengembangkannya.

Sementara SARS-CoV-2 memiliki partikel yang lebih besar dibanding virus campak, sehingga tidak dapat bertahan lama di udara. Namun, Dokter Nachman mengatakan ada faktor lain yang menyebabkan tingginya angka penularan SARS-CoV-2.

"Ketika saya berpikir tentang ruangan tertutup yang besar seperti konser, di mana tidak ada yang memakai masker dan semua bernyanyi, kemungkinan penyebarannya jauh lebih tinggi karena ini adalah viral load yang terus-menerus menjadi aerosol dan beredar di ruang tertutup," kata Nachman.

Apa yang membuat varian Delta sangat menular?

Selanjutnya
Halaman
1 2