Rabu, 04 Agu 2021 07:58 WIB

Vaksin COVID-19 Picu Mutasi Baru-Risiko Wafat 2 Tahun ke Depan? Ini Faktanya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito angkat bicara soal viral narasi vaksin COVID-19 menyebabkan seseorang wafat di 2 tahun ke depan. Narasi yang diklaim berasal dari Luc Montagnier, peraih hadiah Nobel, dipastikan Wiku hoax.

"Terkait dengan pernyataan Luc Montagnier yang menyatakan semua orang yang divaksinasi akan mati dalam 2 tahun adalah tidak benar," sebutnya dalam konferensi pers Selasa (23/8/2021).

"Kutipan itu keliru dikaitkan Luc Montaigner dalam meme berita palsu yang telah beredar secara luas," sambungnya.

Hoax yang tidak kalah viral adalah vaksin COVID-19 memicu varian baru Corona. Wiku meluruskan, vaksin COVID-19 mengandung virus mati, tidak bisa memicu virus bereplikasi atau memperbanyak diri di dalam tubuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah mengeluarkan pernyataan tegas terkait hal tersebut. Wiku meminta masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi seputar COVID-19 dari sumber terpercaya.

"Selain itu pernyataan bahwa vaksinasi dapat menyebabkan varian baru virus Corona juga tidak benar, WHO menjelaskan vaksinasi tidak dapat menyebabkan virus Corona bermutasi menjadi varian baru," kata dia, sambil menegaskan mutasi terjadi saat virus memperbanyak diri pada inang hidup.

"Pada vaksin, virus yang digunakan adalah virus yang dimatikan, virus yang tidak utuh, dan virus yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mampu memperbanyak diri di dalam tubuh," pungkasnya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)