Jumat, 06 Agu 2021 09:02 WIB

Agar Hasil Optimal, Kenali Golden Time Transfusi Plasma Konvalesen

Deden Gunawan - detikHealth
Jakarta -

Terapi tambahan plasma konvalesen menjadi salah satu harapan pasien COVID-19 untuk kembali pulih. Tapi pemberiannya harus tepat waktu dan pasien harus dalam kondisi tertentu agar memberikan hasil yang optimal.

Menurut Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat, dr Linda Lukitasari titer antibodi yang baik dari penyintas COVID-19 bukan dimaksudkan untuk menyelamatkan organ-organ pasien yang sudah rusak, tapi untuk menyerang saat terjadi peradangan. Karena itu pemberian plasma konvalesen waktunya harus diperhitungkan dengan cermat sekali.

"Golden time pemberian plasma adalah pada saat pasien baru 72 jam mengalami sesak nafas waktu di rumah sakit. Angka kesembuhannya bisa 90 persen. Tapi kalau kondisi sudah kritis mungkin potensi sembuhnya cuma 15 persen," kata Linda dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (6/8/2021).

Dia menjelaskan, terapi plasma konvalesen belakangan ini sangat diminati para pasien dan keluarganya. Tapi terapi semacam ini sebetulnya bukan hal baru, karena sudah dilakukan pada saat terjadi wabah flu spanyol, ebola, hingga flu burung.

Persoalan yang dihadapi, masih sangat sedikit penyintas yang bersedia menjadi donor plasma. Selain itu, memang ada syarat dan screening yang harus dilalui berbeda dengan donor darah biasa.

Para penyintas pun tak bisa mendonorkan plasma mereka selamanya karena secara alamiah, titer antibodi akan menurun dalam tempo 3-4 bulan. Karena itu untuk menjadi donor plasma rata-rata hanya sampai 10 kali.

"Hingga awal pekan ini, stok plasma di 42 unit donor kami cuma ada 100 kantong padahal yang membutuhkan lebih dari 3000 orang," kata Linda.

Permintaan plasma konvalesen meningkat hingga 30 kali lipat pasca lebaran, seiring serangan varian delta. Tapi kondisi PPKM Darurat membuat para calon donor tidak leluasa bepergian kemungkinan menjadi salah satu sebab minimnya donor plasma.

Fakta lain, donor plasma konvalesen selama PPKM darurat maupun PPKM Level 4 lebih banyak dari kalangan anggota keluarga atau kerabat pasien (donor pengganti).

"Pendonor sukarelawan seperti Agus Eko Nirno berkurang selama PPKM Darurat, karena itu PMI menggelar gerakan donor plasma konvalesen," ujar dr Linda Lukitasari.
Linda menyarankan agar calon pendonor plasma sebaiknya jangan banyak mengkonsumsi makanan berlemak karena kantong kuningnya akan menjadi keputihan dan tak bisa dipakai.

(ddg/up)