Jumat, 06 Agu 2021 22:54 WIB

Waspadai Dampak Psikis Body Shaming, Bisa Bikin Depresi dan Rendah Diri

Syifa Aulia - detikHealth
Closeup portrait nervous stressed young concerned woman biting fingernails looking anxiously craving something isolated gray background with copy space. Human emotion face expression feeling reaction Foto: iStock
Jakarta -

Atlet angkat besi Nurul Akmal disebut mengalami body shaming setiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah tampil di Olimpiade Tokyo 2020.

Hal itu terlihat dalam cuplikan video yang viral di media sosial. Nurul yang sedang bergaya di depan fotografer tiba-tiba mendapat teriakkan tidak mengenakan dari seseorang yang berada di tempat.

Menanggapi hal itu, atlet asal Aceh ini tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, jika dilihat dari kacamata kesehatan, body shaming memiliki dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

Body shaming adalah tindakan negatif yang bersifat melecehkan dan mempermalukan fisik orang lain. Tindakan ini juga menjadi bagian dari bullying.

Dikutip dari Healthline, ini dampaknya bagi kesehatan.

1. Depresi

Orang yang menjadi korban body shaming shaming memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, seperti stres dan depresi.

Dalam sebuah penelitian, orang yang pernah mengalami fat shaming 2,7 kali lebih mungkin dalam mengalami depresi. Sedangkan pada kasus individu yang kelebihan berat badan, stres dapat membuat mereka lebih banyak makan.

2. Gangguan makan

Korban akan mengalami gangguan makan atau eating disorder. Pada penelitian yang melibatkan 93 wanita, korban fat shaming menyebabkan mereka makan lebih banyak kalori. Aktivitas makan mereka menjadi kurang terkontrol.

3. Kurang percaya diri

Dampak lain body shaming yaitu dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri. Korban akan merasa malu dan minder pada diri sendiri. Hal ini dapat mengganggu aktivitas mereka yang ingin berkembang.



Simak Video "Pandemi Sebabkan Masalah Kesehatan Mental Indonesia Meningkat 9 Persen"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)