Senin, 09 Agu 2021 15:30 WIB

Sama-sama Pakai Darah, Ini Beda aaPRP dr Karina Vs Terapi Plasma Konvalesen

Vidya Pinandhita - detikHealth
Update Corona Hari Ini: Pecah Rekor Lagi-Persiapan Skenario Terburuk Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Terapi aaPRP (autologus activated platelet-rich plasma) untuk pasien COVID-19 kini ramai diperbincangkan. Terapi ini diperkenalkan oleh kepala HayandraLab dari Klinik Hayandra, dr Karina F Moegni, SpBP, seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Kepada detikcom, dr Karina menjelaskan bahwa terapi aaPRP dilakukan dengan cara mengambil darah pasien menggunakan tabung darah yang disediakan HayandraLab. Kemudian, trombosit dipisahkan, dipecah dengan zat khusus. Protein yang keluar dari trombosit dimasukkan ke dalam cairan infus dan diberikan pada pasien.

"Trombosit mengandung lebih dari 1.000 jenis protein. Ada protein anti radang, protein pembangun (growth factors), bahkan zat anti bakteri. Protein anti radang dapat menanggulangi badai sitokin pada COVID-19 dan di saat yang bersamaan, tubuh membangun sel-sel yg dirusak virus (misalnya sel paru) dengan protein pembangun," terangnya, Senin (9/8/2021).

"Anti bakteri pada aaPRP dapat membantu melindungi tubuh dari serangan bakteri, saat tubuh sedang melemah karena bertarung melawan virus.
Semakin cepat COVID teratasi dan semakin cepat sel-sel tubuh yang rusak dibangun kembali, semakin kecil risiko terjadinya gejala sisa (sekuele) pasca COVID," sambungnya.

Apa bedanya dengan terapi plasma konvalesen?

Meski sama-sama menggunakan darah, dr Karina menjelaskan bahwa terapi aaPRP berbeda dengan plasma konvalesen. Menurutnya, terapi plasma konvalesen berisiko penolakan lantaran mengandalkan donor darah orang lain. Sementara aaPRP tidak memiliki risiko penolakan lantaran hanya memerlukan darah pasien COVID-19 yang kemudian diproses.

"(Terapi plasma konvalesen) berasal dari donor atau orang lain. Yang dituju adalah antibodi (protein yang digunakan oleh sistem imun untuk mengenali dan menetralisir benda asing yang masuk ke tubuh). Karena berasal dari orang lain, maka masih ada risiko penolakan," beber dr Karina.

"(aaPRP) berasal dari diri sendiri. Yang dituju adalah berbagai protein (secara teori, lebih dari 1.100 jenis protein) yang terkandung dalam trombosit pasien," pungkasnya.

Terkait klaim manfaat aaPRP untuk COVID-19, para pakar dari sejumlah disiplin ilmu kedokteran mengingatkan dr Karina untuk tidak buru-buru dipromosikan. Sampai ada bukti ilmiah melalui uji klinis, disarankan untuk tidak overklaim.



Simak Video "Kabar Baik! Selama Ramadan, Tren Covid-19 di Indonesia Terus Turun"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)