Rabu, 11 Agu 2021 19:31 WIB

Ngemal Wajib PCR-Antigen, Ahli: Tak Efektif, Jangan Bebankan Warga

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Pengunjung saat scan barcode untuk memasuki Mal Cental Park, Jakarta, Rabu (11/8/2021). Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyatakan bagi warga yang belum divaksinasi COVID-19 karena masalah kesehatan tetap dapat masuk ke dalam mal. Namun, syaratnya harus membawa hasil negatif tes PCR (polymerase chain reaction) atau rapid antigen.

"Mengapa peraturan ini dibuat khusus untuk pusat perbelanjaan & mal? Karena sirkulasi udara di mal & pusat perbelanjaan dilengkapi pendingin udara. Prioritas utamanya adalah menekan laju penyebaran #COVID-19 yang rentan dalam ruangan tertutup," ujar Mendag Lutfi dalam Instagram resminya, Rabu (11/8/2021).

Meski demikian, para pakar epidemiologi menganggap kebijakan tersebut kurang efektif. Pasalnya, saat ini jumlah testing COVID-19 harian di Indonesia masih rendah.

Kemudian, kebijakan harus menyertakan hasil negatif tes PCR atau rapid antigen ini bisa memberatkan masyarakat, karena harganya yang cukup mahal.

"Dalam situasi begini jangan membuat aturan yang memberatkan pemerintah sendiri, memberatkan masyarakat dan juga memberatkan sektor-sektor vital, ekonomi, dan sebagainya," kata pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman kepada detikcom, Rabu (11/8/2021).

"Tujuannya sudah bagus membatasi, namun selain tidak efektif juga tidak efisien, jadi strateginya adalah pertama masalah memberikan keamanan ini adalah dengan meningkatkan 3T, itu," lanjut Dicky.

Menurut Dicky, testing COVID-19 itu harus diutamakan kepada kontak kasus Corona. Artinya, untuk melacak orang yang melakukan kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif COVID-19.

"Jadi bukan asal semua dites, sudah mah terbatas, mahal, jadi memberatkan," ujarnya.

Sementara itu, ahli epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) justru mempertanyakan maksud dari Mendag Lutfi yang mewajibkan pengunjung mal membawa hasil negatif tes PCR atau rapid antigen.

"Itu artinya menteri perdagangan mau berdagang tes PCR dan antigen. Iya kan mungkin dia dapat pesan atau dia punya bisnis di testing," ungkap Pandu dalam wawancara terpisah.

"Artinya nggak perlu aja. Vaksin saja masih belum tentu bisa kok, kan masih banyak penduduk yang belum divaksinasi kan makanya di mal-mal dikasih tempat untuk yang belum divaksinasi bisa divaksinasi, di situ," sambung Pandu.



Simak Video "Komnas KIPI: Efek Vaksin Covid-19 Lebih Banyak Dialami Anak Muda"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/naf)