Kamis, 12 Agu 2021 20:34 WIB

Fakta-fakta Virus Marburg, Gejala hingga Kemunculannya di Afrika

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Blood cells, molecule of DNA forming inside the test tube. 3D illustration, conceptual image of science and technology. Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage
Jakarta -

Guinea di Afrika Barat mengonfirmasi kasus kematian pertama virus Marburg, penyakit yang memiliki angka kematian tinggi hingga 88 persen. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap penyakit ini mulanya terdeteksi di 1967 lalu, di Frankfurt Jerman dan di Beograd Serbia.

Virus Marburg memiliki kemiripan dengan Ebola, keduanya sama-sama anggota keluarga Filoviride (filovirus). Secara klinis, kedua penyakit ini menimbulkan gejala serupa dan bisa memicu wabah dengan kasus kematian tinggi.

Gejala virus Marburg

Gejala virus Marburg akan muncul biasanya dua hingga 21 hari setelah terinfeksi. Seseorang yang terpapar bisa tiba-tiba mengalami demam tinggi hingga sakit kepala parah.

Berikut ciri-ciri umum terinfeksi virus Marburg menurut WHO.

  • Nyeri otot
  • Diare parah
  • Sakit perut
  • Kram
  • Mual dan muntah
  • Lesu
  • Ruam yang tidak gatal

Di antara gejala tersebut, nyeri otot adalah yang paling umum dikeluhkan. Sementara diare berair yang parah, sakit perut hingga mual dan muntah biasanya terjadi di hari ketiga.

Diare bisa bertahan selama seminggu. Ada kondisi lain yang dirasakan pasien terinfeksi Marburg, digambarkan fisiknya seperti 'hantu'.

Pasien biasanya memiliki mata cekung, waja tanpa ekspresi, sangat lesu. Di hari kedua dan ke 7 terpapar COVID-19, muncul ruam tidak gatal.

Banyak yang mengalami pendarahan

Pendarahan parah juga dirasakan pasien terinfeksi Marburg, di antara hari ke 5 dan 7 setela terpapar. Kondisi tersebut menunjukkan pasien mengalami gejala virus Marburg fatal.

Pendarahan bisa terjadi dari hidung, gusi, vagina, seringkali disertai pendarahan pada feses. Pendarahan spontan di tempat tusukan vena (di mana akses intravena diperoleh untuk memberikan cairan atau mengambil sampel darah) bisa sangat merepotkan.

Selama fase penyakit yang parah, pasien mengalami demam tinggi. Keterlibatan sistem saraf pusat dapat mengakibatkan kebingungan, lekas marah, dan agresi. Orkitis (peradangan pada salah satu atau kedua testis) kadang-kadang dilaporkan pada fase akhir penyakit (15 hari setelah terpapar).

Dalam kasus yang fatal, kematian paling sering terjadi antara 8 dan 9 hari setelah timbulnya gejala virus Marburg, biasanya didahului dengan kehilangan darah yang parah dan syok.

Bagaimana virus Marburg menular?

Mulanya, infeksi virus Marburg terjadi akibat kontak terlalu lama dengan penambang atau gua yang ditempati koloni kelelawar Rousettus. Sementara penularan virus Marburg antarmanusia melalui kulit yang rusak atau selaput lendir dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi

Bisa juga terpapar dari permukaan dan bahan lain, misalnya tempat tidur, pakaian yang terkontaminasi dengan cairan ini.

Petugas kesehatan sering terinfeksi saat merawat pasien yang dicurigai atau dikonfirmasi virus Marburg. Hal ini terjadi melalui kontak dekat dengan pasien ketika tindakan pencegahan pengendalian infeksi tidak dilakukan secara ketat.

Penularan melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi atau melalui luka tusukan jarum dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah dan, mungkin, tingkat kematian yang lebih tinggi.

Upacara pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah juga dapat berisiko terjadinya penularan Marburg. Seseorang dipastikan bisa menularkan selama darah mereka mengandung virus Marburg.



Simak Video "WHO Konfirmasi Kasus Kematian Pertama Akibat Virus Marburg"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)