Sabtu, 14 Agu 2021 17:12 WIB

Normalkah Seseorang Memiliki Fetish? Begini Penjelasan Psikolog

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Perban, pinset, krim antiseptik Heboh fetish perban mata di media sosial. (Foto ilustrasi: Thinkstock)
Jakarta -

Media sosial Twitter kembali dihebohkan dengan unggahan seseorang yang diduga menjadi korban fetish perban mata. Sebelumnya, kasus fetish semacam ini, seperti kain jarik dan jempol kaki juga sempat viral pada 2020 lalu.

Sebenarnya, apa itu fetish dan apakah ada dampaknya untuk kesehatan mental?

Psikolog dan dosen psikologi dari Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, MPsi, menjelaskan fetish adalah objek yang bisa membuat seseorang menjadi terangsang secara seksual. Sedangkan fetisisme adalah gangguan penyimpangan seksual yang ditandai dengan fantasi yang disertai dorongan seksual intens dan terjadi secara terus menerus pada diri seseorang.

"Muncul hasrat ingin melakukan hubungan seksual dan kalau dia melihat sebuah benda atau misalnya bagian tubuh yang non-genitalia secara simbolis pada tubuh manusia itu malah membuat dia jadi semakin terangsang," ujar Dian.

Pada kesempatan yang sama, Alvin Theodorus selaku Co-Founder Tabu.id, akun Instagram yang menyediakan informasi terkait seks dan kesehatan reproduksi, menjelaskan perbedaan antara fetish biasa dengan fetish yang sudah masuk dalam ranah gangguan penyimpangan seksual.

"Biasanya yang kita fokuskan itu perbedaan antara memiliki fetish biasa dengan fetish yang sudah masuk dalam gangguan penyimpangan seksual," kata Alvin.

Menurut Alvin, fetish biasa atau normal merupakan bentuk ketertarikan terhadap objek yang tidak menimbulkan kerugian terhadap orang lain. Tetapi, jika fetish menyebabkan ketidaknyaman terhadap orang lain, seperti memicu terjadinya pelecehan seksual atau mengumpulkan foto dan video tanpa persetujuan orang lain sudah termasuk bentuk penyimpangan seksual yang harus segera ditangani oleh psikolog atau psikiater.

Apa saja gejalanya?

Dian mengatakan tidak semua orang memiliki fetish. Selain itu, seseorang juga bisa memiliki fetish dengan pasangannya sendiri, asalkan ada kesepakatan dan persetujuan dari satu sama lain.

Orang yang mengalami gangguan fetish umumnya mengalami dorongan perilaku dan fantasi seksual yang berulang selama kurun waktu 6 bulan. Tak hanya itu, orang yang memiliki fetish juga sangat intens melibatkan benda mati atau non genital dalam fantasi seksualnya.

"Jadi minimal 6 bulan dulu, kalau masih baru sebulan masih gejala, kalau sudah lebih dari 6 bulan atau sudah masuk masa 6 bulan berarti mengalami gangguan," pungkasnya.

Apa saja dampak dari fetish ini dan bagaimana mengatasinya? Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jika Kita Jadi Korban Fetisisme"
[Gambas:Video 20detik]