Senin, 16 Agu 2021 11:52 WIB

RI Belum 'Merdeka' dari Corona, Pakar Ingatkan Jangan Terlena Herd Immunity

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Vaksin bukan jaminan membuat seseorang benar-benar kebal terhadap penyakit COVID-19. Kadang ada kasus saat seseorang yang sudah divaksinasi masih bisa terinfeksi. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia sempat diprediksi terbebas dari pandemi COVID-19 di 17 Agustus, bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan. Hal ini diutarakan mantan Ketua Umum BNPB Doni Monardo awal Februari lalu.

Namun, jika melihat tren kasus COVID-19 di tengah merebaknya varian baru Corona termasuk varian Delta, ahli epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai hal tersebut tentu tak realistis. Terlebih, banyak negara yang dulunya berhasil menekan kasus COVID-19, kini kembali berjuang melawan gelombang baru COVID-19.

"Nggak realistis lah karena jangankan Indonesia sedang berjibaku, negara-negara dari awal sudah bagus pengendaliannya sekarang kan menghadapi masalah, Australia, Vietnam, Singapura. Jadi sayangnya kita belum kalau saat ini," tutur Dicky sembari menekankan masih panjang perjalanan terbebas pandemi.

RI baru bisa bebas Corona 5 tahun mendatang

Dicky menegaskan, mustahil bisa terbebas dari COVID-19 dalam waktu dekat. Terlebih, belum ada satupun vaksin Corona yang memiliki efikasi 100 persen mencegah penularan.

Namun, pemerintah dinilai sudah jauh lebih baik dalam merespons pandemi tahun ini. Melalui pelaksanaan PPKM, skenario terburuk pandemi COVID-19 akhirnya bisa dicegah.

"Walaupun 3T kita masih banyak PR, tapi setidaknya sudah lebih baik dari tahun lalu, tambah lagi saat ini ada vaksin kan," sambung dia, saat dihubungi detikcom Senin (16/8/2021).

Herd immunity

Dicky menyebut herd immunity pun masih sulit tercapai. Bahkan, tampaknya mustahil didapat dalam waktu dekat, meskipun misalnya DKI Jakarta sudah memvaksinasi lebih dari 80 persen populasi.

"Sekali lagi herd immunity jangan sering dipakai karena ini sesuatu yang masih sangat jauh dan bahkan agak-agak mustahil ya, bukan tidak mungkin tapi jauh banget," jelas Dicky.

"Itu ambang batas dari herd immunity-nya sudah mulai tercapai, tapi untuk mencapai herd immunity-nya masih banyak proses dinamika terutama mendapatkan vaksin yang memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah penularan," kata Dicky.

Di tengah munculnya varian Delta yang semakin mendominasi, perjuangan mencapai herd immunity juga semakin besar. Angka reproduksi varian Delta bahkan mendekati angka 9.

"Dunia saat ini tengah berjuang, termasuk menurunkan angka reproduksi di bawah satu, dan bicara herd immunity di tengah adanya varian Delta yang mendekati reproduksinya angka 9, kita jangan terlena dengan istilah ini, karena itu sekali lagi cakupan jangka panjang," beber dia.

Manfaat vaksinasi

Dicky menegaskan hal tersebut tidak lantas mengartikan tak ada manfaat dari vaksinasi COVID-19. Vaksin COVID-19 bermanfaat mencegah kasus COVID-19 bergejala berat hingga menekan kasus rawat inap.

Selain itu, penambahan kasus aktif juga otomatis jauh terkendali dengan adanya vaksinasi.

"10 kasus infeksi per 100 ribu itu saja sudah bagus, dan salah satunya ada peran vaksinasi di situ. Kasus infeksi nggak ada yang ke ICU dan meninggal itu yang harus dikejar dan dicapai dari program vaksinasi," pungkasnya.



Simak Video "Meski Kasus Melandai, Satgas Covid-19 Ingatkan Pandemi Belum Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)