Selasa, 17 Agu 2021 17:17 WIB

Anak Dibiasakan Sebut Alat Kelamin dengan Nama Lain, Ini Dampak Psikisnya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sad, upset little boy sitting on the edge of his bed. Covering his face with hands. Foto: Getty Images/iStockphoto/djedzura
Jakarta -

Demi menghindari rasa canggung, tak jarang anak diajarkan untuk menyebut alat kelamin dengan kata pengganti yang diharapkan terkesan lebih halus. Misalnya, menyebut penis dengan kata 'burung' atau 'tongkat'.

Namun rupanya, hal ini tak disarankan oleh pakar. Selain menimbulkan kebiasaan tertentu, hal ini berpotensi terbawa hingga dewasa dan menciptakan fantasi seksual ketika anak mendengar kata tersebut.

"Sebut namanya, bahwa ini vagina, ini penis. Jangan dibilang ini tongkat, ini bolongan. Kita kasih tahu namanya supaya dia bisa membedakan. Nggak usah pakai term yang membuat anak jadi berpikir, kemudian dia menyamaratakan dengan semua benda-benda yang lainnya," ujar Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, M.Psi, Psikolog dalam program e-Life di detikcom, Jumat (13/8/2021).

"Berarti dia kalau mendengar kata tongkat, itu bisa meningkatkan hasrat seksualnya. Itu berbahaya, secara tidak langsung sebetulnya sudah mengajarkan kepada anak-anak bahwa kata-kata justru bisa mengarah pada fetish," lanjutnya.

Penjelasan berkaitan dengan pembentukan fetish atau objek erotis tertentu yang bisa memicu hasrat seksual seseorang. Memiliki fetish sebatas fantasi adalah hal wajar. Namun jika fantasi tersebut terus-menerus mendorong hasrat seksual, apalagi sampai mengganggu kenyamanan orang lain, kondisi tersebut sudah tergolong menyimpang atau disebut fetisisme.

"Setidaknya dalam 6 bulan dia mengalami dorongan fantasi seksual atau perilakunya berulang dan sangat intens, melibatkan benda mati atau bagian tubuh non genital. Minimal 6 bulan. Kalau masih baru 1 bulan, berarti dia masih punya gejala," ujar Dian.

Ia menjelaskan, fetish terbentuk dari berbagai faktor, salah satunya pengalaman yang dialami seseorang sejak kecil. Bisa jadi, fetish terbentuk karena kebiasaan mengganti sebutan alat kelamin dengan objek lain. Sehingga ketika seseorang melihat objek tersebut digunakan orang lain, timbul dorongan seksual.

Hal tersebut juga terkait kabar yang baru-baru ini viral di media sosial, di mana seorang pengguna Twitter membujuk sejumlah perempuan untuk mengirim foto diri sambil menggunakan perban di mata. Foto-foto tersebut kemudian dipublikasikan ke Twitter, dibarengi sejumlah konten porno yang pelaku 're-tweet' di linimasanya.



Simak Video "Geger Fetis Mata Diperban"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)