Kamis, 26 Agu 2021 21:05 WIB

Ilmuwan WHO Isyaratkan Peluang Ungkap Asal-usul COVID-19 Menipis, Ada Apa?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Corona virus: vial with pipette in laboratory Foto: Getty Images/iStockphoto/Bill Oxford
Jakarta -

Para ilmuwan internasional yang dikirim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ke China untuk mencari asal-usul virus Corona mengatakan bahwa pencarian tersebut telah terhenti. Mereka juga mengungkapkan peluang untuk memecahkan misteri itu telah tertutup.

Dalam sebuah komentar yang dipublikasi dalam jurnal Nature, para ahli yang direkrut WHO ini mengatakan penyelidikan ini berada pada 'titik kritis'. Pasalnya, mereka mencatat bahwa para pejabat di China masih enggan membagikan beberapa data mentah, dengan alasan kekhawatiran atas kerahasiaan pasien.

"Jendela peluang (petunjuk) untuk melakukan penyelidikan penting ini akan ditutup dengan cepat. Ini membuat beberapa penelitian biologis tidak mungkin dilakukan," kata para ahli yang dikutip dari AP News, Kamis (26/8/2021).

"Misalnya antibodi berkurang, jadi untuk mengumpulkan dan menguji sampel orang yang mungkin telah terpapar sebelum Desember 2019 hasilnya akan semakin berkurang," lanjutnya.

Marion Koopmans dan rekan-rekannya yang direkrut WHO mencantumkan sejumlah prioritas untuk penelitian lebih lanjut, termasuk melakukan survei antibodi yang lebih luas. Misalnya mengidentifikasi tempat-tempat COVID-19 menyebar tanpa terdeteksi baik di China maupun di luarnya, menguji kelelawar liar dan hewan ternak sebagai potensi reservoir virus, dan menyelidiki setiap petunjuk baru yang kredibel.

Beberapa ilmuwan juga khawatir peluang terbaik untuk mengumpulkan sampel mungkin terlewatkan selama beberapa minggu pertama, setelah beberapa kasus manusia pertama muncul terkait dengan pasar makanan laut Wuhan.

Para peneliti China juga telah mengumpulkan sampel lingkungan setelah virus Corona ditemukan. Tetapi, tidak jelas berapa banyak orang atau hewan yang telah diuji.

"Begitu mendapatkan pedagang satwa liar dan telah beralih ke pekerjaan lain karena khawatir mereka bisa melakukan ini lagi, jendela (peluang) itu mulai tertutup," kata Maciej Boni seorang profesor biologi Universitas Negeri Pennsylvania dan bukan bagian dari WHO.

Namun, Boni mengatakan para ilmuwan mungkin bisa menentukan dengan tepat sumber hewan COVID-19 dengan berburu virus virus yang ada pada spesies rakun, cerpelai, hingga tupai. Tetapi, penelitian tersebut mungkin memerlukan waktu sekitar 5 tahun untuk melakukan studi ekstensif yang diperlukan.

Sebelumnya, pihak China mengatakan para pejabat harus memikirkan adanya jalan lain yang bisa membantu dalam melacak asal-usul COVID-19. Mereka menyarankan agar penelitian juga dilakukan di negara lain.

Mereka juga setuju bahwa pencarian asal-usul COVID-19 terhenti. Tetapi, mereka mengklaim itu bukan kesalahan dari pihak China.

"China selalu mendukung dan akan terus berpartisipasi dalam upaya penelusuran asal (COVID-19) berbasis sains," ujar direktur jenderal di Kementerian Luar Negeri China, Fu Cong.



Simak Video "Peringatan China ke WHO soal Rencana Baru Cari Asal Usul Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)