Kamis, 26 Agu 2021 17:01 WIB

Round Up

Gempar Mutasi 'COVID-22', Panik Duluan Ternyata Cuma Salah Paham

Syifa Aulia - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. Heboh COVID-22 yang ternyata salah paham (Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter)
Jakarta -

Baru-baru ini warganet dihebohkan dengan istilah COVID-22 yang viral. Disebut-sebut COVID-22 adalah varian baru virus Corna yang lebih kuat dibanding varian Delta. Banyak yang kemudian dibuat panik akan hal itu.

Munculnya istilah COVID-22 bermula dari pernyataan Profesor Sai Reddy, seorang profesor dari Sistem dan Imunologi Sintetis di Universitas ETH Zurich, dalam wawancaranya dengan surat kabar berbahasa Jerman di Swiss, Blick.

"Saya percaya COVID di 2022, terutama pada Januari hingga Maret memiliki peluang lebih buruk dibanding COVID di 2021," jelasnya, seperti ditulis The Sun.

Disebutkan dalam tulisan tersebut, Prof Reddy mengatakan kemungkinan itu bisa saja terjadi melihat varian Delta telah tersebar secara luas dan banyak aktivitas tanpa pengetatan yang meningkatkan risiko transmisi serta lahirnya varian baru.

Prof Redy menurut tulisan tersebut juga menanggapi terkait fase pandemi berikutnya yang mendorong varian Beta atau Gamma semakin menular.

"Itu akan menjadi masalah besar untuk tahun mendatang. Covid-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita saksikan sekarang," tutur Prof Reddy.

Tanggapan para pakar

Menanggapi hal itu, Profesor Jeremy Rossman, selaku dosen honorer senior bidang virologi di University of Kent, mengatakan bahwa tidak ada istilah COVID-22. Pemberian label varian COVID dengan cara tersebut dianggap tidak benar.

"Kriteria untuk varian baru yang disebut COVID-22 tidak ditentukan saat ini. Namun ini kemungkinan bisa menjadi spesies virus baru dan bukan hanya varian baru. Sebagai referensi, kami hanya memiliki satu spesies COVID-19 saat ini," tegas Prof Rossman, dalam wawancaranya kepada Newsweek, dikutip pada Kamis (26/8/2021).

Diketahui, para ilmuwan belum mengidentifikasi mutasi genetik dengan varian COVID saat ini, yang menyebabkan virus menjadi spesies baru. Rossman menambahkan bahwa kemungkinan istilah itu tidak akan pernah digunakan.

Yang sebenarnya terjadi

Dalam wawancara dengan inews.co.uk, Prof Reddy meluruskan kesimpangsiuran yang terjadi. Menurutnya, yang ia sampaikan dalam wawancara dengan surat kabar berbahasa Jerman di Swiss, Blick, tidak seperti yang ditafsirkan banyak orang.

"Untuk jelasnya, pernyataan saya adalah untuk menyampaikan bahwa saya percaya COVID di 2022, khususnya di awal tahun (Januari-Maret) berpeluang lebih buruk dari tahun ini, COVID di 2021," tegasnya.

Keyakinan tersebut bukan tidak berdasar. Menurutnya, penularan varian Delta yang meluas dan makin kendurnya berbagai pembatasan, bisa memperburuk kondisi saat ini. Belum lagi, muncul berbagai mutasi baru.

"Ada beberapa hal yang membingungkan dalam wawancara saya dengan surat kabar berbahasa Jerman di Swiss, Blick," jelasnya.

"Tidak akurat menyebutnya COVID-22, karena nama resmi dan tepat untuk penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 adalah COVID-19," tegas Prof Reddy



Simak Video "Seorang Ahli Wanti-wanti Kemungkinan 'Covid-22' Berisiko Berat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)