Minggu, 29 Agu 2021 20:56 WIB

Bisa-bisa Saja 'COVID-22' Beneran Ada, Tapi Nggak Sesimpel Itu

Vidya Pinandhita - detikHealth
Corona Viruses against Dark Background Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Baru-baru ini, istilah baru COVID-22 bikin geger. Profesor imunologi Sai Reddy menyebut kemungkinan munculnya varian baru pada 2022 bisa menimbulkan risiko besar. Menurutnya, potensi varian Corona Delta, Beta, dan Gamma akan bergabung dan membentuk strain baru.

"COVID-22 bisa lebih buruk dari apa yang kita lihat sekarang. Jika varian seperti itu muncul, kita harus mengenalinya sedini mungkin dan produsen vaksin harus mengadaptasi vaksin dengan cepat," ujar Prof Reddy yang dikutip dari The Sun, Selasa (24/8/2021).

Menurutnya, varian Delta atau yang ia sebut sebagai 'COVID-21' adalah varian paling menular. Namun, varian ini tak punya kemampuan 'kabur' dari sistem kekebalan. Berbeda dengan varian Beta, diyakini bisa menurunkan efektivitas vaksin. Prof Reddy khawatir, kombinasi varian inilah yang nantinya lebih mematikan.

"Ini adalah fase pandemi berikutnya ketika Beta atau Gamma menjadi lebih menular atau Delta mengembangkan mutasi pelarian. Itu akan menjadi masalah besar untuk tahun mendatang," jelasnya.

Dibantah CDC

Dalam kesempatan lainnya, istilah 'COVID-22' dari Prof Reddy dibantah oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC). Disebutkan, saat ini varian delta adalah versi SARS-CoV-2 yang paling menular.

"Tidak ada yang namanya COVID-22," ujar dr Stuart Ray, wakil ketua kedokteran untuk integritas data dan analitik di Johns Hopkins Medicine.

"Sejauh ini, kami tidak memiliki varian yang benar-benar naik ke level yang akan menggantikan Delta. Tetapi ada banyak pengawasan di banyak tempat untuk memastikan bahwa kita tidak melewatkan sesuatu seperti itu datang," lanjutnya.

Klarifikasi pencetus

Melalui pernyataan kepada VERIFY, Prof Reddy mengonfirmasi bahwa dia mengomentari potensi COVID-19 untuk bermutasi pada awal 2022 dengan potensi peningkatan penularan.

Namun menurut dr Ray, varian baru yang mungkin muncul kelak tidak akan dinamai COVID-22.

"Secara teoritis, mungkin ada virus Corona baru yang belum pernah dikenali pada manusia sebelumnya yang menyebabkan penyakit menular," katanya.

"Dan jika itu muncul pada 2022, maka kita mungkin menyebutnya COVID-22," pungkas dr Ray.



Simak Video "Seorang Ahli Wanti-wanti Kemungkinan 'Covid-22' Berisiko Berat"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)