Jumat, 27 Agu 2021 16:49 WIB

Fakta di Balik Varian 'COVID-22', Bikin Gempar Ternyata Cuma Salah Paham

Salwa Aisyah Sheilanabilla - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. Bikin heboh, COVID-22 rupanya cuma salah paham (Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter)
Jakarta -

Warganet sempat dihebohkan dengan narasi yang beredar yang menyebutkan munculnya varian baru virus Corona yaitu COVID-22. Varian ini disebut-sebut lebih kuat dibanding varian delta.

Istilah "COVID-22" viral pada akhir Agustus setelah sejumlah media barat mengutip wawancara seorang ilmuwan dengan surat kabar berbahasa Jerman. Salah satunya Insider Paper yang menuliskannya dengan judul "New variant dubbed 'Covid-22' could be more deadly than Delta, expert warned."

Artikel tersebut memuat wawancara Profesor Sai Reddy dari Sistem dan Imunologi Sintetis di Universitas ETH Zurich, dengan surat kabar berbahasa Jerman di Swiss, Blick.

Sementara dikutip Abc10, Jum'at (27/08/2021), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) membantah narasi tersebut dan mengatakan hingga saat ini varian delta adalah versi SARS-CoV-2 yang paling menular.

Dalam cuitan Insider Paper juga disebutkan COVID-22 sebagai "varian super baru." Prof Reddy tidak mengatakan COVID-22 telah muncul, melainkan varian tersebut bisa muncul di masa depan.

"Sangat mungkin bahwa varian baru akan muncul dan kita tidak lagi dapat mengandalkan vaksinasi saja," kata Prof Reddy kepada SonntagsBlick.

Kemunculan COVID-22 juga dibantah oleh dr Stuart Ray, wakil ketua kedokteran untuk integritas data dan analitik di Johns Hopkins Medicine.

"Tidak ada yang namanya COVID-22," ujar dr Stuart Ray.

"Sejauh ini, kami tidak memiliki varian yang benar-benar naik ke level yang akan menggantikan delta. Tetapi ada banyak pengawasan di banyak tempat untuk memastikan bahwa kita tidak melewatkan sesuatu seperti itu datang," kata dr Stuart.

Akhirnya diklarifikasi

Dalam sebulan terakhir, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menambahkan varian baru ke daftar pelacakan varian. Varian terakhir dalam daftar tersebut adalah varian Lambda.

Lewat pernyataan yang dikirim email kepada VERIFY, Prof Reddy juga mengonfirmasi bahwa dia mengomentari potensi COVID-19 untuk bermutasi pada awal 2022 dengan cara yang dapat menyebabkan peningkatan penularan lebih lanjut.

Sementara dr Ray menambahkan jika ada varian baru yang muncul, varian tersebut tidak akan dinamai COVID-22.

"Selama garis keturunan virus yang sedang kita tangani ini muncul pada akhir 2019, maka itu adalah COVID-19," kata dr Ray.

dr Reddy menjelaskan alasannya menyebut COVID-22 adalah sebagai julukan untuk COVID-19 yang muncul pada 2021 dan Covid-19 pada 2022.

"Saya menggunakan julukan 'Covid-21' dan 'Covid-22' untuk merujuk pada Covid-19 pada 2021 dan Covid-19 pada 2022," jelas dr Reddy, seperti ditulis Abc10.

Lebih lanjut, dr Ray menjelaskan harus ada virus corona baru yang belum dikenali sama sekali dan menyebabkan penyakit menular untuk kemudian dinamai 'COVID-22.'

"Secara teoritis, mungkin ada virus corona baru yang belum pernah dikenali pada manusia sebelumnya yang menyebabkan penyakit menular," kata Dr. Ray. "Dan jika itu muncul pada 2022, maka kita mungkin menyebutnya COVID-22," pungkasnya.



Simak Video "Seorang Ahli Wanti-wanti Kemungkinan 'Covid-22' Berisiko Berat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)