Sabtu, 28 Agu 2021 16:06 WIB

China Ungkap 7 Alasan AS Juga Patut Dicurigai Jadi Asal-usul COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Kisruh tudingan asal usul Corona yang terjadi antara China dan Amerika Serikat masih terus berlanjut. Kini China meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan penyelidikan soal asal usul virus ini di Amerika Serikat.

Juru bicara kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, menyebutkan ada tujuh alasan kenapa Amerika Serikat (AS) juga harus diperiksa terkait asal usul Corona. Salah satunya adalah munculnya pasien penyakit paru terkait vaping pada 2019 lalu yang memiliki gejala mirip COVID-19.

"Alih-alih berpikir bagaimana AS mengendalikan pandemi, beberapa politisi di sana mencoba mengeluarkan uang untuk menutup kegagalannya dalam menanggapi COVID-19. Hal itu justru membuat mundur dan merusak upaya pelacakan virus internasional serta kerja sama global melawan pandemi," jelas Zhao Lijian yang dikutip dari Global Times, Sabtu (28/8/2021).

"Klaim AS yang mengatakan bahwa China menolak untuk memberikan informasi yang diperlukan hanyalah alasan untuk menutupi kegagalannya dalam memanfaatkan intelijen untuk melacak asal usul virus," lanjutnya.

Adapun tujuh alasan yang diduga kuat menunjukkan bahwa 'pasien nol' COVID-19 mungkin berasal dari AS.

  1. Gejala wabah penyakit paru-paru terkait vaping di Wisconsin pada Juli 2019 sangat mirip dengan COVID-19.
  2. Menurut situs web US NIH, penelitian menunjukkan bukti infeksi di lima negara bagian di AS muncul kembali pada Desember 2019.
  3. Pejabat pemerintah AS menyegel sampel darah yang dikumpulkan sebelum 2 Januari 2020 dari pengujian lebih lanjut dengan alasan keamanan nasional.
  4. Florida mempublikasi data 171 kasus awal yang terjadi pada Januari dan Februari 2020, kemudian data tersebut dihapus.
  5. Ada sekitar 200 warga AS atau negara-negara yang terhubung dengan ke AS mengklaim bahwa mereka atau orang lain diduga terinfeksi COVID-19 pada awal November 2019.
  6. Sebanyak 12 negara termasuk Kosta Rika dan Kenya secara terbuka mengidentifikasi 'pasien nol' COVID-19 mereka diimpor dari AS.
  7. Fort Detrick dan University of North Carolina sam-sama memiliki catatan keamanan yang buruk dalam hal penelitian virus Corona. Fort Detrick ditutup oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, setelah insiden keamanan serius pada 2019 lalu, tepat sebelum wabah COVID-19.

"AS harus menghadapi pertanyaan sah yang diajukan oleh komunitas internasional dan mengundang WHO untuk melakukan tinjauan terhadap Fort Detrick dan University of North Carolina untuk mengecek sumber virus dan mengungkap data asli kasus awal di AS," kata Zhao.

"Jika AS Menolak untuk menerima kondisi ini, itu hanya akan semakin mengungkap wajah sebenarnya dari mempolitisasi penelusuran asal virus," pungkasnya.



Simak Video "Sebut Kesempatan Terakhir Cari Asal Corona, Kapan Tim WHO Gerak?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)