Senin, 30 Agu 2021 10:44 WIB

Round Up

Heboh Risiko Badai Sitokin pada Pasien COVID-19, Siapa yang Paling Rentan Kena?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Badai sitokin kini ramai diperbincangkan lantaran disebut-sebut rentan dialami oleh pasien COVID-19. Sebenarnya, faktor apa yang membuat seorang pasien COVID-19 rentan alami badai sitokin? Apakah riwayat komorbid tertentu, atau siapa pun bisa kena?

"Kita tidak punya alat untuk memprediksi kira-kira orang mana yang cenderung badai sitokin atau tidak. Tapi kita harus akui bahwa tampaknya umur menjadi salah satu dari sekian banyak tanda awal," ujar spesialis penyakit dalam, dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD-KP dalam YouTube Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jumat (27/8/2021).

"Banyak yang terjadi itu pada usia 55 tahun sampai 65 tahun, bahkan lebih tinggi. Maka itu kita bisa selalu antisipasi pada pasien usia lanjut. Semakin lanjut usia, ini risiko untuk terjadi badai sitokin semakin besar," lanjutnya.

Ia menambahkan, hingga kini tidak ada bukti bahwa riwayat penyakit komorbid memperbesar risiko badai sitokin pada pasien COVID-19. Namun jika pasien memiliki riwayat penyakit berat seperti gangguan jantung atau ginjal, besar potensi kondisinya semakin parah jika mengalami badai sitokin.

"Ketika sitokinnya tinggi, ketika dia punya komorbid atau penyakit tambahan misalnya diabetes, darah tinggi, jantung, itu dampak dari sitokin yang meningkat lebih dramatis. Dia bisa melonjakan gula lebih tinggi, kemudian fungsi jantung kalau jantungnya meradang dia punya koroner misalnya, tentu jantung lebih cepat drop," terang dr Ceva.

"Paling sering paling berat pada COVID sakit ginjal ya. Ketika punya sakit ginjal, sitokin tidak hanya di paru tapi sistemik seluruh tubuh. Kemudian ginjalnya kena itu mempersulit kita mengelola ginjalnya. Risiko fatalitas menjadi lebih tinggi," pungkasnya.

Mungkinkah nihil tanda pada pasien COVID-19, tiba-tiba kena badai sitokin?

dr Ceva menjelaskan risiko badai sitokin bergantung pada respons imun atau sifat reaktif kekebalan tubuh. Biasanya, badai sitokin tidak terjadi di awal-awal seseorang terinfeksi virus Corona atau justru dalam waktu lama setelah pasien dinyatakan sembuh dari COVID-19.

Namun pada pasien dengan gejala berkepanjangan, respons kekebalan tubuh bisa ikut terangsang dalam waktu lama sehingga badai sitokin terjadi lebih dari 10 hari.

"Badai sitokin pasti terasa. Kalau peningkatan sitokin masih ringan belum sampai badai, kalau saya istilahkan tadi badai gelombang saja ibarat laut, gelombang saja belum sampai badai itu masih tidak terasa," jelasnya.

"Kalau tinggi (badai sitokin) pasti terasa ada demamnya, sesak napas, kemudian dia kalau pakai monitor pakai pulse oximeter saturasi sekarang di rumah banyak yang punya itu kelihatan makin turun," pungkas dr Ceva.



Simak Video "Deteksi Covid-19 Sejak Dini Dapat Kurangi Potensi Badai Sitokin"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)