Minggu, 29 Agu 2021 15:26 WIB

Tak Semua Mengalami, Apa yang Membuat Pasien COVID-19 Kena Badai Sitokin?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Badai sitokin kini jadi perbincangan hangat lantaran disebut-sebut rentan dialami oleh pasien COVID-19. Namun sebenarnya, benarkah setiap pasien COVID-19 bisa mengalami badai sitokin? Atau ada kondisi tertentu yang membuat seseorang rentan mengalami badai sitokin?

Apa itu badai sitokin?

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD-KP menjelaskan pada kondisi normal, sitokin adalah protein yang dilepaskan sel kekebalan sebagai 'senjata' sehingga timbul peradangan. Fungsi lainnya, sitokin bekerja meredam peradangan.

"Ada yang kemudian meningkat tinggi sehingga ibaratnya kalau perang, bomnya banyak. Yang salah, juga terlalu rendah. Ada informasi untuk menarik mundur pasukan, padahal musuhnya lagi banyak-banyaknya di medak tempur. Itu yang membuat keadaan pasien menjadi buruk," terangnya dalam YouTube Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jumat (27/8/2021).

Siapa yang paling rentan terkena badai sitokin?

dr Ceva menjelaskan, hingga kini tidak ada alat khusus untuk memprediksi risiko badai sitokin. Namun mengacu pada kasus badai sitokin pada pasien COVID-19, ia menyebut faktor penyebab badai sitokin adalah umur. Menurutnya, badai sitokin banyak dialami pasien COVID-19 berusia 55-65 tahun.

"Kita tahu anak-anak sebagian besar tidak kena COVID dan kalau COVID itu ringan, walaupun kita harus akui ada juga kobran meninggal dari anak-anak. Namun sebagian besar tidak. Semakin dewasa orang, semakin ada kans untuk kena badai sitokin. Kemudian banyak yang terjadi itu pada usia 55 tahun sampai 65 tahun, bahkan lebih tinggi," ujarnya.

"Kita bisa selalu antisipasi pada pasien lebih lanjut. Semakin lanjut usia ini risiko untuk terjadi badai sitokin semakin besar. Mungkin itu disebabkan karena semakin usia, kemampuan sel kekebalan kita untuk cerdas meregulasi respons imunnya itu semakin agak kacau," lanjut dr Ceva.

Bagaimana cara mencegah badai sitokin pada pasien COVID-19 bergejala berat?

Pada pasien COVID-19 bergejala berat, khususnya yang menjalani perawatan di rumah sakit, umumnya dilakukan pemeriksaan sebelum pulang ke rumah termasuk sitokin. Lantaran badai sitokin tidak muncul dalam waktu lama setelah seseorang pasien COVID-19 dinyatakan sembuh, pemeriksaan ini idealnya cukup untuk memeriksa kondisi sitokin pasien.

Artinya, orang yang sudah sembuh dari COVID-19 tidak perlu melakukan pencegahan atau pemeriksaan khusus terkait risiko badai sitokin.

"Misal seseorang klinis fisik, perasaan, tampak oleh mata jelas-jelas dia sudah perbaikan mestinya sih tidak terjadi badai sitokin. Tentu bagi mereka yang dirawat idealnya sudah ada pemeriksaan sebelum dia pulang mengenai sitokinnya," jelasnya.

"Kalau sudah menurun apalagi kalau diperiksa serial 2 kali atau 3 kali pemeriksaan kemudian menurun, kita bisa lihat bahwa umumnya tidak akan terjadi bergelombang. (Badai sitokin) sudah turun lalu naik lagi, itu tidak," pungkasnya dr Ceva.



Simak Video "Deteksi Covid-19 Sejak Dini Dapat Kurangi Potensi Badai Sitokin"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)