Minggu, 29 Agu 2021 14:14 WIB

Kena Badai Sitokin Setelah Sembuh Lama dari COVID-19? Nggak Segampang Itu

Vidya Pinandhita - detikHealth
Jakarta -

Badai sitokin kini ramai diperbincangkan lantaran disebut-sebut bisa dialami oleh pasien COVID-19. Bahkan, ada yang menyebut badai sitokin bisa terjadi dalam waktu lama setelah pasien dinyatakan sembuh dari COVID-19. Benarkah demikian?

"Badai sitokin itu tidak akan terjadi jika dia sudah sembuh cukup lama, sudah satu bulan misalkan dia sembuh. Ini pernah ada juga yang kemudian menanyakan ini saya ada keluhan begin kira-kira badai sitokin nggak? Padahal dia kenanya sudah mulai satu bulan yang lalu. Itu kan terlalu jauh sebenarnya," terang spesialis penyakit dalam, dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD-KP dalam YouTube PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Jumat (27/8/2021).

Menurutnya, risiko badai sitokin bergantung pada respons imun atau sifat reaktif kekebalan masing-masing tubuh. Umumnya, badai sitokin tidak terjadi di awal-awal seseorang terinfeksi virus Corona. Namun pada kasus gejala berkepanjangan, respons kekebalan tubuh bisa ikut terangsang secara berkepanjangan sehingga badai sitokin terjadi lebih dari 10 hari.

"Secara umum biasanya di hari pertama itu tidak terjadi, minggu pertama tidak terjadi. Walaupun saya akuin ada pasien yang kemudian baru sakit empat hari sudah terjadi gejala yang menunjukkan adanya badai sitokin. Tapi sebagian besar terjadi setelah di atas 10 hari, terutama masuk di atas dua minggu," jelas dr Ceva.

"Berapa lama? Itu bisa panjang bisa sampai 40 hari bahkan itu bisa terjadi pada yang kemudian responnya berkepanjangan. Atau juga virusnya lambat untuk hilang, itu juga bisa merangsang terus terjadi," sambungnya.

Mungkinkah tidak terasa apa-apa, tiba-tiba badai sitokin sudah parah?

Ia menambahkan, hampir seluruh pasien COVID-19 dengan kondisi kritis mengalami badai sitokin. Namun memang, tingkat badainya berbeda-beda. Ada yang tergolong ringan ibarat riak gelombang, ada yang berat ibarat badai.

"Badai sitokin pasti terasa. Kalau peningkatan sitokin masih ringan belum sampai badai, kalau saya istilahkan tadi badai gelombang saja ibarat laut, gelombang saja belum sampai badai itu masih tidak terasa," jelasnya.

"Kalau tinggi (badai sitokin) pasti terasa ada demamnya, sesak napas, kemudian dia kalau pakai monitor pakai pulse oximeter saturasi sekarang di rumah banyak yang punya itu kelihatan makin turun," pungkas dr Ceva.

(vyp/up)