Sabtu, 28 Agu 2021 17:12 WIB

Wajib Tahu! Ternyata Inilah Faktor Pemicu Badai Sitokin

Syifa Aulia - detikHealth
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang. Foto: NIAID
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Deddy Corbuzier mengungkapkan dirinya terinfeksi COVID-19 dan mengalami kondisi badai sitokin. Selain Deddy, Raditya Oloan juga mengalami kondisi ini dan meninggal dunia.

Secara umum, setiap pasien Corona berisiko mengalami kondisi tersebut, meskipun telah dinyatakan negatif dari COVID-19. Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD-KP, badai sitokin berasal dari dua kata, yaitu cyto (sel) dan kine (kinetik atau pergerakan).

"Itu semacam protein yang dilepaskan sel kekebalan, semacam senjata yang dilepaskan dan alat komunikasi kepada sel yang lain untuk memerintahkan terjadi peradangan," kata dr Ceva dalam Podcast TanyaIDI episode 18, Jumat (27/8/2021).

Pada pasien yang mengalami badai sitokin, beberapa sel dalam tubuh akan mengalami kerusakan. Namun menurut dr Ceva, kondisi itu juga dapat berfungsi sebagai peredam.

Umumnya, badai sitokin dapat terjadi ketika telah melewati hari ke-10. Kondisi itu kemungkinan dapat berlangsung selama 40 hari dan dapat menyerang pada semua organ.

"Beberapa pasien ada yang mengalaminya saat hari ke-4. Setiap pasien juga mengalami badai yang berbeda, mulai dari badai ringan hingga berat," ungkapnya.

dr Ceva menjelaskan, pada badai yang berat pasien akan mengalami gejala demam, sesak napas, saturasi oksigen semakin menurun, bahkan serangan jantung akibat pergumpalan darah.

Ia menambahkan, sampai saat ini Indonesia belum memiliki alat untuk memprediksi pasien yang berisiko terkena badai sitokin. Namun, ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhinya, salah satunya usia.

"Tapi tampaknya, faktor usia menjadi salah satu pemicunya. Banyak yang terjadi pada usia di atas 50 tahun. Semakin lanjut usia, risiko terkena badai sitokin lebih besar," jelas dr Ceva.

Meski begitu, dr Ceva mengatakan bahwa pasien usia muda juga berisiko terkena badai sitokin. Namun jumlah tersebut lebih sedikit dibanding usia tua.

Menyinggung pasien yang memiliki komorbid, dr Ceva mengatakan bahwa belum ada bukti yang signifikan untuk menjadikan komorbid sebagai faktor risiko.

"Hanya saja, ketika badai sitokin yang dialaminya semakin berat, penyakit bawaan itu bisa semakin parah, terutama pada penderita sakit ginjal," kata dr Ceva.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa pasien yang memiliki gangguan genetik dapat mengalaminya. Menurutnya, jika sistem kekebalan tubuh cenderung lebih reaktif, pasien akan cenderung terkena badai sitokin.



Simak Video "Deteksi Covid-19 Sejak Dini Dapat Kurangi Potensi Badai Sitokin"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)