Kamis, 26 Agu 2021 14:04 WIB

Waspadai Gejala Badai Sitokin, Sekekar Deddy Corbuzier Saja Bisa Kena

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Ilustrasi virus Corona Setiap pasien COVID-19 berisiko mengalami badai sitokin, kenali gejala badai sitokin. (Foto ilustrasi: Dok. NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases)
Jakarta -

Setiap pasien COVID-19 memiliki risiko terkena badai sitokin, bahkan ketika sudah dinyatakan negatif dari virus Corona. Ada sederet gejala badai sitokin yang wajib diketahui.

Dikutip dari Very Well Health, badai sitokin bukanlah penyakit, melainkan masalah medis yang disebabkan oleh produksi kekebalan tubuh secara berlebihan sehingga memicu inflamasi. Apabila tak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Apa itu badai sitokin?

Secara garis besar, badai sitokin adalah respons imun yang berlebihan sehingga menyebabkan masalah serius. Perlu diketahui, ada berbagai macam komponen yang terkandung di dalam sistem kekebalan untuk melawan infeksi.

Kondisi ini mencakup berbagai jenis sel yang berkomunikasi satu sama lain melalui molekul sinyal, yang dikenal sebagai sitokin. Terdapat berbagai jenis sitokin dengan fungsi yang berbeda-beda.

Beberapa membantu merekrut sel-sel kekebalan lainnya, sementara yang lainnya membantu dengan produksi antibodi atau sinyal rasa sakit. Kemudian beberapa sitokin dapat membuat pembekuan darah lebih mudah, serta membantu menghasilkan peradangan (inflamasi).

Sementara itu, kelompok sitokin yang lain bertugas untuk meredam respons peradangan di tubuh. Hal ini merupakan respons keseimbangan yang penting karena terlalu banyak peradangan dapat menyebabkan masalah tersendiri.

Dalam keadaan normal, sitokin membantu mengkoordinasikan respons sistem kekebalan untuk menangani zat menular, seperti virus atau bakteri. Masalahnya, terkadang respons kekebalan tubuh bisa lepas kendali, sehingga menyebabkan lebih banyak kerugian daripada kebaikan.

Kadang-kadang tubuh memproduksi terlalu banyak sitokin inflamasi daripada sitokin yang dapat meredam peradangan.

Pada pasien COVID-19, peningkatan beberapa sitokin inflamasi tampaknya terlibat dalam pengembangan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), penyebab utama kematian pada orang yang terinfeksi virus Corona.

Apa saja gejala badai sitokin?

Badai sitokin dapat menyebabkan berbagai macam gejala. Terkadang hanya gejala ringan seperti flu, namun dalam beberapa kasus gejalanya bisa menjadi makin parah hingga mengancam jiwa.

Berikut beberapa gejala badai sitokin.

  • Demam dan kedinginan
  • Kelelahan
  • Lesu
  • Pembengkakan ekstremitas
  • Mual dan muntah
  • Sakit otot dan sendi
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Napas cepat
  • Kejang
  • Kesulitan mengkoordinasikan gerakan
  • Kebingungan dan halusinasi.

Selain itu, tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah juga bisa menjadi gejala badai sitokin yang parah. Dalam kondisi ini, jantung mungkin tidak memompa sebaik biasanya.

Akibatnya, badai sitokin dapat mempengaruhi beberapa sistem organ sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Menangani badai sitokin pada pasien COVID-19

Dikutip dari laman Frontiers, konsumsi obat antivirus yang menghambat transmisi virus dan menghancurkan replikasi virus dapat mengurangi kerusakan sel langsung yang disebabkan oleh COVID-19. Kombinasi yang tepat dengan terapi imunoregulasi yang menghambat respons inflamasi yang teraktivasi secara hiper dapat menahan badai sitokin yang dipicu oleh virus.

Berbagai uji klinis telah dimulai untuk menyelidiki intervensi potensial untuk mengendalikan badai sitokin pada pasien dengan COVID-19, termasuk penghambatan langsung badai sitokin dengan terapi imunomodulator.



Simak Video "Pengakuan Deddy Corbuzier Sempat Kena Covid-19 dan Nyaris Meninggal"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)