Senin, 30 Agu 2021 12:30 WIB

Hati-hati, Wamenkes Ingatkan Kematian Corona Anak Naik Terus! Ini Penyebabnya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Students wearing face masks to prevent the spread of COVID-19 wash their hands before entering a school building on the first day its reopening in Jakarta, Indonesia, Monday, Aug. 30, 2021. Authorities in Indonesias capital kicked off the school reopening after over a year of remote learning on Monday as the daily count of new COVID-19 cases continues to decline. (AP Photo/Dita Alangkara) Angka kematian COVID-19 pada anak meningkat. (Foto: AP/Dita Alangkara)
Jakarta -

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono mengungkap tren kasus COVID-19 pada anak di pertengahan hingga akhir Agustus 2021 meningkat 2 persen, dibandingkan usia dewasa. Per Juli kenaikan kasus mencapai 13 persen, kini kenaikannya menjadi 15 persen.

Begitu pula dengan angka kematian COVID-19 pada anak, Dante melihat angkanya malah menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tren kematian di usia dewasa yang sudah mulai menurun. Disebut Dante, banyak orangtua yang tidak sadar anak-anak terinfeksi COVID-19.

"Ternyata ketika kasus kematian pada usia dewasa sudah mulai menurun beberapa saat ini, tetapi kasus kematian pada anak belum terlalu menunjukkan proses penurunan yang signifikan," ungkap Dante dalam konferensi pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Senin (30/8/2021).

"Bahkan kasus kematian pada anak semakin meningkat di beberapa daerah. Ini disebabkan karena keterlambatan orangtua untuk membawa anak itu ke tempat pengobatan yang baik," sambung dia.

Dante mengungkap banyak kasus anak tidak selamat dari COVID-19 karena saat dibawa ke RS sudah dalam kondisi memburuk. Seperti sering mengira anak terpapar flu, padahal sebenarnya positif Corona.

Ia kemudian mengimbau agar setiap orang tua memahami gejala COVID-19 pada anak yang kerap tidak khas. Selalu mewaspadai jika anak mendadak tidak ingin makan dan demam tinggi.

Gejala COVID-19 pada anak

"Tadinya mengira hanya flu biasa, kemungkinan anaknya hanya anosmia atau kehilangan indra penciuman, biasanya ini tidak terlalu banyak dikeluhkan oleh anak, tetapi yang timbul pada anak adalah mereka susah makan," ungkap Dante.

"Ketika mereka susah makan, kemudian mereka mempunyai gejala mirip flu diobati sebagai gejala sakit flu. Tetapi karena kondisi anaknya akhirnya sudah semakin parah baru orang tua sadar, itu pengetahuan terhadap gejala-gejala COVID-19 pada anak penting diketahui," pesannya.

Dante meminta hal ini harus menjadi perhatian utama di setiap keluarga, sehingga tren kasus kematian COVID-19 anak yang meningkat bisa terus ditekan.

"Tidak menunggu anak itu kelihatan sesak dulu baru dibawa ke RS. Tetapi dari awal ketika anak demam, susah makan, diperiksakan ke dokter dibawa ke IGD sehingga nanti kita lihat angkanya tidak semakin naik pada anak-anak," imbau dia.



Simak Video "Aice & Kemendikbud Bagikan 2 Juta Masker untuk Sekolah Tatap Muka"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)