Selasa, 31 Agu 2021 12:03 WIB

Apa Penyebab Varian Delta Lebih Cepat Menular? Studi Ini Ungkap Jawabannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Virus Corona Varian Delta Melonjak di RI, Ini Fakta-faktanya Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Dunia kini tengah berjuang melawan varian Delta (B1617.2) yang disebut lebih cepat menyebar dan lebih mematikan. Varian ini telah menyebar ke hampir seluruh negara, termasuk Indonesia.

Hal ini pun menimbulkan pertanyaan apa yang membuat varian Delta lebih berbahaya dari varian lainnya. Lalu, apa penyebabnya?

Varian Delta pertama kali diidentifikasi di India pada akhir 2020 lalu. Setidaknya varian ini 40 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha (B117), yang pertama kali diidentifikasi di Inggris.

Menurut para peneliti, mutasi asam amino utama yang terdapat di dalam spike protein SARS-CoV-2 diduga menjadi penyebab mengapa varian Delta bisa menyebar luas ke seluruh negara dengan cepat.

Studi yang belum ditinjau sejawat dan dipublikasi di server pra-cetak bioRxiv ini pun menunjukkan bagaimana mutasi P681R pada spike protein varian Delta berperan dalam penggantian varian Alpha-to-Delta.

"Varian Delta secara efisien mengungguli varian Alpha dalam sel epitel paru-paru manusia dan jaringan saluran napas utama manusia," tulis para peneliti dari University of Texas yang dikutip dari India.com, Selasa (31/8/2021).

Dikutip dari laman Nature, mutasi P681R terletak di area spike protein yang dipelajari secara intensif yang disebut pembelahan furin. Rantai pendek asam amino P681R ini dikaitkan dengan peningkatan infektivitas pada virus lain, seperti influenza.

"Ciri utama varian Delta adalah penularannya yang meningkat ke tingkat berikutnya. Kami pikir, varian Alpha sangat buruk dan lebih mudah menyebar. Tapi, yang ini (varian Delta) sepertinya lebih," jelas Pei-Yong Shi, ahli virologi di University of Texas Medical Branch di Galveston.

Saat diuji para peneliti, keberadaan mutasi P681R ini juga memungkinkan varian Delta dengan cepat mengungguli varian Alpha, dalam sel epitel saluran napas manusia. Namun, saat tim peneliti menghilangkan mutasi P681R, keunggulan varian Delta berkurang.

Selain itu, studi ini juga menunjukkan kehadiran mutasi P681R ini juga mampu mempercepat penyebaran SARS-CoV-2 dari sel ke sel.

Pada penelitian lainnya yang dilakukan di University of Tokyo, mereka menemukan bahwa spike protein yang membawa mutasi P681R ini dapat menyatu dengan membran plasma sel yang tidak terinfeksi tiga kali lebih cepat dibandingkan spike protein yang tidak memiliki mutasi.

Meski begitu, tim peneliti tetap memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memeriksa keberadaan mutasi lain pada spike protein varian Delta yang membuatnya lebih cepat menular.



Simak Video "Kemenkes: Varian Mu dan Lambda Kalah 'Favorit' dengan Varian Delta"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)