Kamis, 02 Sep 2021 08:30 WIB

Sejumlah Penelitian Sebut Moderna Lebih Efektif Lawan Varian Delta

Jihaan Khoirunnisaa - detikHealth
Ilustrasi vaksin Moderna Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Vaksin Moderna diklaim lebih ampuh dalam melawan virus Corona varian delta daripada Pfizer. Hasil riset dari 2.500 tenaga kesehatan di rumah sakit Belgia menunjukkan, vaksin Moderna menghasilkan antibodi 2 kali lipat lebih banyak dari vaksin Pfizer.

"Dalam penelitian tersebut terungkap rata-rata antibodi tenaga kesehatan yang disuntik dua dosis vaksin Moderna dalam terinfeksi COVID-19 mencapai 2.881 unit per mililiter (ml). Adapun pengguna vaksin Pfizer 1.108 unit/ml," ujar Bloomberg seperti dikutip dari laman CNBC, Kamis (2/9/2021).

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam surat kepada jurnal kesehatan American Medical Association, perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh 2 hal, di antaranya:

Bahan Aktif

Jumlah bahan aktif dalam vaksin Moderna yang lebih tinggi dibandingkan Pfizer. Diketahui, vaksin Pfizer menggunakan bahan aktif 30 mikrogram sementara Moderna 100 mikrogram.

Jarak Waktu Penyuntikan

Dua dosis vaksin Moderna disuntikkan dengan internal 3 minggu. Berbeda dengan vaksin Pfizer yang jarak antara penyuntikan dosis pertama dan kedua berselang 4 minggu.

Dalam penelitian Mayo Clinic Health System di wilayah Florida, Amerika Serikat ,yang dilakukan Juli lalu disebutkan pengguna vaksin Moderna 60% lebih rendah terinfeksi COVID-19 varian Delta ketimbang Pfizer. Hal yang sama ditemukan di daerah Minnesota. Para peneliti menemukan vaksin Moderna (vaksin mRNA-1273) memiliki efektivitas 78% dalam mencegah infeksi COVID-19 varian Delta, sementara vaksin Pfizer (vaksin BNT162b2) hanya 42%.

"Membandingkan tingkat infeksi antar individu yang sudah divaksin penuh mRNA-1273 dengan BNT162b2 pada seluruh pusat kesehatan Mayo Clinic Health System (Minnesota, Wisconsin, Arizona, Florida, dan Iowa), mRNA-1273 memberikan pengurangan risiko dua kali lipat terhadap infeksi terobosan dibandingkan dengan BNT162b2," tulis penelitian Mayo Clinic.

Meski begitu, para peneliti Mayo Clinic menemukan kedua vaksin ini masih sangat melindungi pengguna terhadap penyakit parah. Perbedaannya hanya terletak pada peluang besaran seseorang yang sudah divaksin penuh bisa terinfeksi varian delta.



Simak Video "Respons Moderna Usai Swedia Cs Setop Sementara Penggunaan Vaksinnya"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)