Kamis, 02 Sep 2021 07:30 WIB

Sama-sama Jadi Incaran, Ini Perbandingan Vaksin Moderna Vs Pfizer

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Salah satu sentra vaksinasi COVID-19 di Yogyakarta digelar selama tuhuh hari berturut-turut di Gedung Jogja Expo Center. Vaksin yang diberikan yakni Sinovac. Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: PIUS ERLANGGA)
Jakarta -

Berbagai jenis vaksin COVID-19 yang ada saat ini dibuat dengan platform yang berbeda-beda. Meski berbeda, vaksin tersebut tentunya mampu memberikan kekebalan agar tubuh bisa melawan infeksi akibat virus Corona.

Salah satu platform yang disebut memiliki efikasi yang tinggi adalah vaksin berbasis mRNA. Sedikitnya dua jenis vaksin yang berbasis mRNA, yaitu Moderna dan Pfizer. Bagaimana performanya di dalam tubuh?

Menurut penelitian yang dilakukan pada petugas kesehatan di Belgia yang telah disuntik kedua vaksin tersebut, vaksin Moderna teramati memberikan tingkat antibodi dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan Pfizer.

Penelitian yang dipublikasi di JAMA ini melibatkan 2.499 orang petugas kesehatan di Belgia yang sudah menerima dua dosis vaksin Moderna atau Pfizer. Selanjutnya, para peneliti melihat tingkat antibodi di lewat tes darah sebelum vaksinasi dan 10 minggu usai menerima dosis kedua.

Hasil tes antibodi

Pada orang yang sudah pernah terinfeksi COVID-19, hasilnya sebagai berikut:

  • Vaksin Moderna menghasilkan tingkat antibodi sebesar 3.836 U/mL
  • Vaksin Pfizer menghasilkan tingkat antibodi sebesar 1.444 U/mL
  • Sementara pada orang yang belum pernah terinfeksi COVID-19, hasilnya:
  • Vaksin Moderna menghasilkan tingkat antibodi sebesar 2.881 U/mL
  • Vaksin Pfizer menghasilkan tingkat antibodi sebesar 1.108 U/mL

Menurut para peneliti, hasil yang berbeda ini disebabkan oleh kandungan mRNA pada vaksin Moderna yang lebih tinggi dibanding vaksin Pfizer. Selain itu, jarak penyuntikan vaksin Moderna lebih lama yaitu 4 bulan, sedangkan Pfizer hanya 3 minggu.

"Hubungan antara tingkat netralisasi setelah vaksinasi SARS-CoV-2 dan perlindungan terhadap COVID-19 telah ditunjukkan oleh beberapa penelitian," tulis penelitian tersebut yang dikutip dari Fox News, Rabu (1/9/2021).

"Dengan demikian, tinggi respons humoral setelah vaksinasi yang berkorelasi dengan titer antibodi penetralisir, mungkin relevan secara klinis," lanjutnya.

Namun, penelitian ini juga memiliki beberapa keterbatasan, seperti kurangnya data tentang imunitas seluler dan fokus pada petugas kesehatan.

Para peneliti pun menegaskan tetap membutuhkan penelitian lanjutan guna menentukan apakah perbedaan tingkat antibodi ini menunjukkan perbedaan dalam perlindungan yang bertahan lama atau tidak.

Sebelumnya, studi yang dilakukan Mayo Clinic menunjukkan bahwa vaksin Moderna mampu memangkas jumlah pasien COVID-19 yang membutuhkan rawat inap setengah lebih banyak dibandingkan vaksin Pfizer.

"Setiap dosis mRNA-1273 (Moderna) memberikan salinan mRNA spike protein tiga kali lebih banyak daripada BNT162b2 (Pfizer), yang bisa menyebabkan priming yang lebih efektif dari respons imun," jelas penelitian tersebut.



Simak Video "Vaksin Moderna Jadi Primadona, Pakar Ingatkan Stoknya Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)