Jumat, 03 Sep 2021 08:46 WIB

Isolasi Terpusat Dinilai Cegah Naiknya Angka Klaster Keluarga

Nurcholis Maarif - detikHealth
Seorang nakes memandu pasien COVID-19 untuk senam sore di tempat isolasi Perumahan Nelayan, Padang, Sumatera Barat, Selasa (3/8/2021). Fasilitas isolasi pasien COVID-19 terpusat dikelola Pemkot Padang tersebut memiliki jumlah pasien masuk yang terus meningkat sejak bulan Mei 2021, dengan data terakhir pada Juli sebanyak 537 pasien. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Isolasi mandiri yang dilakukan pasien positif COVID-19 dinilai bisa memicu penularan dan kenaikan angka klaster keluarga. Untuk itu Satgas Penanganan COVID-19 menyarankan agar mereka datang ke isolasi terpusat (isoter) yang sudah disiapkan pemerintah.

"Bagi mereka yang isolasi mandiri tapi infrastrukturnya kurang memadai yang kita khawatirkan adalah jadinya klaster di keluarga," ujar Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Brigjen TNI (P) dr. Alexander Kaliaga Ginting dalam webinar 'Strategi Isolasi Terpusat Minimalisir Fatalitas Akibat Covid-19' yang disiarkan YouTube BNPB Indonesia, Kamis (2/9/2021).

"Seorang anak yang masih aktif pulang ke rumah, dia isolasi mandiri kemudian PCR-ya positif, tapi di rumah itu ada lansia 2 orang atau ada ibu hamil 1 orang. Ini berpotensi akan membuat mereka akan menjadi sakit, terinfeksi dan mengalami perburukan," imbuhnya.

Menurut dr Alexander, jika isolasi mandiri hanya berpotensi jadi klaster, maka lebih baik ke isolasi terpusat yang jelas lebih aman. Hal ini dinilai sebagai langkah menyelamatkan diri dan keluarga. Selain itu juga berpotensi mengurangi kasus-kasus ke kerabat atau teman kantor.

Lebih lanjut ia mengungkapkan walaupun saat ini Jakarta masuk dalam PPKM level 3, jika ada yang bergejala COVID-19 dan belum diperiksa, maka diimbau tak masuk kantor. Mereka yang bergejala dan punya kontak erat dengan pasien positif diminta berada di rumah ataupun di isolasi terpusat.

"Ini yang kita kampanyekan ke seluruh orang. Sehingga walaupun kasus turun, BOR rumah sakit turun, tetapi ini masih rentan. Kita lihat di Amerika, sebulan dua bulan mereka bebas, kemudian vaksinasi sudah mencapai 80%, tapi apa yang terjadi sekarang? Mereka semua berada dalam lonjakan kasus," ujar dr Alexander.

"Demikian juga beberapa bulan yang lalu terjadi di Inggris, hanya dalam beberapa bulan mereka relaksasi, tapi kemudian terjadi lagi lonjakan kasus. Kita harus belajar pengalaman dari itu. Supaya bulan September, Oktober, November, Desember ini harus terkontrol terus," imbuhnya.

Untuk mengontrol tersebut, kata dr Alexander, tracing dan testing harus terus dilakukan meski laporan harian menunjukkan penurunan angka kasus aktif COVID-19. Hal ini juga harus dibarengi dengan vaksinasi untuk meningkatkan imunitas masyarakat.

"Dan kedua vaksinasi juga perlu dikampanyekan untuk meningkatkan imunitas, bukan menghindari terinfeksi. Sehingga yang sudah vaksin jangan lemah, harus tetap pakai masker, cuci tangan, jaga jarak. Dan kalau terinfeksi, ke isoter," ujarnya.

"Jangan mengatakan saya sudah vaksin, saya kena (COVID-19), saya di rumah saja. ini resikonya sama saja. Tetap harus dilakukan isolasi terpusat," pungkasnya.

(ncm/ega)