Selasa, 07 Sep 2021 10:17 WIB

Kasus COVID-19 Malaysia Tinggi Meski Berlakukan Lockdown, Apa yang Terjadi?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Penambahan kasus positif virus Corona yang terus melonjak, mengguncang beberapa negara di Asia. Salah satunya negara Malaysia. Corona di Malaysia. (Foto: Getty Images/Rahman Roslan)
Jakarta -

Malaysia pada Senin (6/9/2021) mencatat 17.352 kasus baru COVID-19, jumlah harian terendah dalam 28 hari terakhir. Meski demikian kasusnya masih cenderung tinggi meski Malaysia memberlakukan lockdown dan pengetatan selama tujuh bulan sejak Juni lalu.

Negeri Jiran menjadi negara dengan tingkat infeksi tertinggi di Asia Tenggara, bahkan jumlah kasus hariannya melebihi Indonesia. Per Senin (6/9/2021), Indonesia mencatat penambahan 4.413 kasus baru, terendah sejak Juni 2021.

Musa Mohd Nordin, dokter anak dan dokter residen di Rumah Sakit Spesialis KPJ Damansara, mengatakan kepada The BMJ bahwa staf yang menghadapi pasien "kelelahan dan terlalu banyak bekerja" dan "melaporkan dampak negatif fisik, pekerjaan, psikologis, dan sosial."

Musa menambahkan bahwa kegagalan negara untuk meningkatkan pengujian COVID-19 harian ke tingkat minimal, sekitar 250.000 tes sehari menurut rekomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia, tidak membantu mengatasi krisis.

Kemarin, Malaysia mengetes 104.892 orang, angka testing terendah dalam 47 hari, dengan tingkat positivity rate 16,54 persen.

"Paling-paling, kami rata-rata melakukan 150.000 tes sehari dan tingkat positif kami berkisar antara 12-15 persen, yang menurut WHO, berarti pandemi telah di luar kendali di sini sejak Mei 2021," katanya dikutip dari The BMJ.

Mempercepat cakupan vaksinasi

Peluncuran vaksin cepat Malaysia dimulai pada pertengahan Juli dan memberikan keuntungan. Tingkat vaksin harian negara yang diberikan per 100 orang mencapai 1,64 pada 18 Agustus 2021. Angka ini jauh lebih tinggi daripada negara-negara seperti Indonesia (0,17), AS (0,21), Inggris (0,32), Uni Eropa (0,52), Thailand (0,79), dan Jepang (1,04).

Pada 24 Agustus 2021, 41,6 persen warga Malaysia telah mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19, menurut Komite Khusus Jaminan Akses Pasokan Vaksin Covid-19.

Area di mana lebih dari 60 persen populasi telah menerima setidaknya satu dosis vaksin , seperti Kuala Lumpur, Selangor, Labuan, dan Sarawak, mengalami penurunan jumlah penerimaan dan ventilasi rumah sakit.

Program imunisasi nasional saat ini menggunakan vaksin Pfizer BioNTech, Sinovac, dan AstraZeneca. Vaksinasi langsung telah tersedia bagi mereka yang berusia 18 tahun ke atas.

Hanya saja Malaysia memiliki kekhawatiran atas kasus varian baru, dengan 467 kasus varian Delta yang tercatat serta 209 kasus Beta.



Simak Video "Kritikan Ahli Atas Kebijakan Inggris Tangani Lonjakan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)