ADVERTISEMENT

Selasa, 07 Sep 2021 16:55 WIB

Pertama Kali Positivity Rate RI di Bawah 5 Persen Malah Was-was, Lho Kenapa?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19. Positivity rate Corona di Indonesia pertama kalinya di bawah 5 persen. (Foto: Andhika Prasetia)
Jakarta -

Pemerintah melaporkan angka positivity rate Corona di Indonesia di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama kalinya berada di bawah 5 persen. Berdasarkan laporan Satgas per Senin (6/9/2021) positivity rate spesimen harian COVID-19 Indonesia ada di 4,43 persen.

Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyebut perbaikan baru terlihat signifikan di daerah Jabodetabek, khususnya DKI Jakarta. Menurut dia, Indonesia tetap perlu berhati-hati karena masa krisis varian Delta belum usai.

Laporan nasional yang dilaporkan pemerintah ditegaskan Dicky belum bisa menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

"Meskipun pemerintah memang melaporkan perbaikan dalam seminggu terakhir lah, 1 September ya untuk penurunan kasus infeksi 25 persen, kematian 37 persen loh dalam minggu terakhir dari Agustus sampai 1 September lah. Ini juga yang diamati WHO," kata Dicky kepada detikcom Selasa (7/9/2021).

Dicky melanjutkan, beberapa wilayah belum menuntaskan strategi testing dan tracing yang maksimal. Selama ini strategi tersebut baru dimasifkan di wilayah Jawa dan Bali. Maka dari itu, tidak heran jika kasus nasional menurutnya 'terlihat' membaik, tetapi faktanya tidak seperti yang dilaporkan.

"Namun harus dipahami ini terjadi di tengah minimnya testing dan tracing, logika program belum berjalan, artinya itu ibarat kalau saya menerima ini antara senang dan khawatir," sambungnya.

"Bahwa ada upaya dari pemerintah iya ada, tapi tidak cukup kuat atau belum cukup kuat keluar dari masa krisis, masa krisis Delta masih akan berlangsung setidaknya sampai akhir September," beber dia.

Kabar baik kasus nasional yang dilaporkan sepekan terakhir ditegaskan Dicky tidak bisa menggambarkan keseluruhan kondisi di Indonesia. Sama seperti yang terjadi di dunia, saat Amerika Serikat dan Eropa membaik, kasus Corona dunia juga terlihat menurun padahal faktanya tidak demikian.

"Selama ini testing yang mendominasi Jabodetabek, ketika Jabodetabek membaik, ya ikut baik nasional, karena yang lainnya nggak kuat intervensi 3T-nya," beber Dicky.

"Seperti dunia, yang 3T-nya bagus kan Amerika, Eropa, selain beberapa negara lainnya tentunya, kecuali Indonesia. Nah itu kalau mereka membaik dunia juga terkesan membaik padahal nggak," tegas dia.

Dikutip dari Reuters, angka positivity rate di Indonesia terendah sejak Maret 2020 sejak pertama kali COVID-19 dilaporkan di Indonesia. Hal ini dijelaskan pendiri Kawal COVID-19 Elina Ciptadi. Meski begitu, menurut dia angka resmi yang dilaporkan pemerintah sebenarnya kurang bisa menggambarkan apa yang terjadi di lapangan termasuk angka kematian.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT