Kamis, 09 Sep 2021 09:49 WIB

Fenomena Aneh CT COVID-19 di Surabaya Terkait Varian Mu? Kemenkes Buka Suara

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) dr Siti Nadia Tarmizi bicara soal dugaan femomena aneh pada pasien Corona pekerja migran indonesia yang baru pulang ke Jawa Timur. dr Nadia menegaskan tak ada kaitan CT value dengan infeksi varian baru Corona termasuk varian Mu.

"Tidak (ada kaitan dengan CT Value), harus whole genome sequencing (WGS) tutur dr Nadia kepada detikcom Kamis (9/9/2021).

"Ini masih harus dipastikan dengan WGS. Tentu pemeriksaan WGS bisa memastikan virus COVID-19 varian apa, apakah benar varian baru," sambung dia.

Di sisi lain, dr Nadia menyebut sejauh ini varian baru Corona yang teridentifikasi di Indonesia didominasi varian Delta, menyusul varian Alpha, dan Beta. Sementara kasus COVID-19 varian Delta sudah ditemukan lebih dari 2 ribu kasus, di hampir seluruh provinsi Indonesia.

Namun, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia dr Dicky Budiman mengungkap kemungkinan varian Mu sudah masuk Indonesia. Pasalnya, rentang waktu varian Mu pertama kali ditemukan sejak Januari 2021 di Kolombia hingga kini sudah berjalan 9 bulan.

Pemerintah diminta Dicky harus tetap memaksimalkan strategi testing, tracing, dan treatment di tengah merebaknya sejumlah varian baru Corona. Terlebih, menurut dia, Indonesia belum keluar dari krisis varian Delta.

Dikutip dari CNN, penanggung jawab Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) dr Ahmad Samsulhadi yang mengungkap fenomena aneh tersebut menjelaskan pasien Corona ini memiliki hasil CT Value sangat rendah. Inilah yang menjadi kekhawatiran ciri-ciri mutasi Corona baru.

"Karena kami menemukan nilai CT value 1,8 pada satu pasien," kata Samsulhadi, Rabu (8/9).



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)