Kamis, 09 Sep 2021 10:05 WIB

Kemenkes: Hasil Penyelidikan Kepolisian Tak Temukan Kebocoran Data eHAC

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
TOKYO, JAPAN - JULY 16:  A man uses his smartphone on July 16, 2014 in Tokyo, Japan. Only 53.5% of Japanese owned smartphones in March, according to a white paper released by the Ministry of Communications on July 15, 2014. The survey of a thousand participants each from Japan, the U.S., Britain, France, South Korea and Singapore, demonstrated that Japan had the fewest rate of the six; Singapore had the highest at 93.1%, followed by South Korea at 88.7%, UK at 80%, and France at 71.6%, and U.S. at 69.6% in the U.S. On the other hand, Japan had the highest percentage of regular mobile phone owners with 28.7%.  (Photo by Atsushi Tomura/Getty Images) Aplikasi eHAC diklaim tak bocor. (Foto: Atsushi Tomura/Getty Images)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan menyebut dari hasil penyelidikan kepolisian tidak ditemukan adanya dugaan kebocoran data pengguna pada aplikasi elektronik Health Alert Card (eHAC). Pihak kepolisian juga menyatakan tidak menemukan upaya pengambilan data dari sistem eHAC.

Setelah dipastikan tidak ditemukan adanya pengambilan data pengguna eHAC, maka bantuan penyelidikan oleh Siber Polri dihentikan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, dr. Anas Maruf, MKM menegaskan data masyarakat yang ada dalam sistem eHAC tidak bocor dan dalam perlindungan.

"Masyarakat tidak perlu khawatir, data pengguna eHAC tetap aman dan saat ini sudah terintegrasi dalam aplikasi PeduliLindungi," katanya di Jakarta, Kamis (9/9/2021).

Sebelumnya kabar kebocoran data eHAC dilaporkan VPN Mentor yang kemudian diverifikasi oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan diterima oleh Kemenkes pada tanggal 23 Agustus 2021. Kemenkes kemudian melakukan penelusuran dan perbaikan pada sistem eHAC.



Simak Video "Dear +62, Kemenkes Minta Aplikasi eHAC Lama Dihapus Saja"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)