Minggu, 12 Sep 2021 08:35 WIB

Awalnya Ingin Damai, Singapura Kini Hati-hati Hadapi Lonjakan COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
View of the merlion statue of Merlion Park, and the financial district in downtown Singapore. The merlion is a symbol and mascot of Singapore. Foto: Getty Images/Marcus Lindstrom
Jakarta -

Singapura tadinya dikabarkan sudah menyiapkan rencana hidup 'damai' dengan COVID-19 karena memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi. Namun, belakangan ini kasus COVID-19 melonjak sehingga membuat pemerintah harus berhati-hati.

Rekor kasus COVID-19 tertinggi di Singapura dilaporkan terjadi pada hari Jumat (10/9/2021), dengan 573 kasus baru. Sebelumnya kasus COVID-19 Singapura diketahui dalam kondisi landai dengan rata-rata di bawah 50 kasus setiap hari.

Salah satu kepala Satgas COVID-19 Singapura, Menteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong, mengaku tren ini mengkhawatirkan. Ini adalah pertama kalinya Singapura menghadapi lonjakan kasus COVID-19 sejak puncak wabah di bulan April 2020 lalu.

"Kami memang menyangka akan ada peningkatan kasus saat pembatasan mulai dilonggarkan. Tapi peningkatan yang tajam ini mengkhawatirkan," kata Gan seperti dikutip dari CNA, Minggu (12/9/2021).

Gan menyebut ingin berkaca dengan kasus yang terjadi di negara lain yang juga memiliki cakupan vaksinasi tinggi, seperti Israel dan Inggris. Kedua negara tersebut juga dilaporkan mengalami lonjakan COVID-19 setelah mencoba hidup 'damai' dan melakukan pelonggaran protokol kesehatan.

"Jadi sekarang kami ingin berhati-hati dan memberi waktu untuk memastikan kasus yang tinggi ini tidak berujung pada peningkatan kasus serius dan kematian," ungkap Gan.

"Dua sampai empat minggu ke depan akan menjadi periode yang penting. Karena kita akan mengetahui apakah para pasien akan menghadapi gejala serius dan komplikasi," lanjutnya.



Simak Video "Singapura Batal 'Damai' dengan COVID-19: Lockdown Parsial Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)