Senin, 13 Sep 2021 16:12 WIB

Terungkap! Menkes Jelaskan Penyebab CT Value Ekstrem 1,8 di Surabaya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Menkes Budi Gunadi Sadikin Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, muncul kabar pasien Corona di Surabaya yang diduga terinfeksi varian baru Corona. Pasien disebut memiliki angka CT Value atau cycle threshold value sebesar 1,8.

Menanggapi ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan pasien tersebut bukan dites menggunakan RT PCR (real time polymerase chain reaction). Itulah yang menyebabkan hasil yang didapatkan lebih rendah hingga 1,8.

"Di Surabaya ada masuk varian baru yang CT-nya rendah. Setelah saya konfirmasi, itu sebenarnya di tesnya bukan menggunakan PCR, tetapi menggunakan metode isoterm (tes molekuler isotermal)," jelas Menkes dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Senin (13/9/2021).

"Nah isoterm (isotermal) itu angkanya lebih rendah. Dia memiliki angka result ada yg 1,5; 1,6; dan 1,8," lanjutnya.

Tes molekuler isotermal ini mirip seperti tes RT PCR dengan teknik pengambilan sampel yang sama, yaitu melalui usapan (swab) nasofaring. Tes ini mendeteksi partikel virus dengan melakukan amplifikasi atau perbanyakan materi genetik virus menggunakan metode NEAR (Nicking Enzyme Amplification Reaction).

Menkes mengatakan hasil CT Value biasanya di atas 2. Hal ini karena tes isotermal ini skala pengukurannya berbeda dengan CT Value yang biasa didapatkan menggunakan RT PCR.

"Jadi, kalau kita mendengar ada CT 1,8 itu karena ada pengulangan dari tes amplifikasi RNA-nya ya. Jadi, kalau angkanya 1,5 atau 1,8 itu menggunakan isoterm yang skala pengukurannya berbeda dengan CT yang biasa kita gunakan di PCR," pungkasnya.



Simak Video "Cara Membaca CT yang Benar untuk Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)