Rabu, 15 Sep 2021 12:10 WIB

Studi Nyata Ketahanan Antibodi Vaksin AstraZeneca di India, Bagaimana Hasilnya?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
BANGKOK, THAILAND - JUNE 07: A woman takes a selfie while being administered the AstraZeneca Covid-19 coronavirus vaccine by a health worker at the mass vaccination site inside the Siam Paragon shopping mall on June 07, 2021 in Bangkok, Thailand. Thailand began rolling out its long-anticipated mass vaccination program on Monday. The government has said it will vaccinate around 70 percent of its population by the end of the year, with either  Sinovac or AstraZeneca vaccines. The government has also announced plans to acquire Pfizer and Johnson & Johnson vaccines to bolster its program. (Photo by Sirachai Arunrugstichai/Getty Images) Vaksin AstraZeneca. (Foto: Getty Images/Sirachai Arunrugstichai)
Jakarta -

Sebuah penelitian terhadap 614 petugas kesehatan yang telah divaksinasi penuh di India menemukan penurunan "signifikan" dalam antibodi penangkal COVID-19 dalam waktu empat bulan sejak suntikan pertama.

Memudarnya antibodi tidak berarti bahwa orang yang diimunisasi kehilangan kemampuan mereka untuk melawan penyakit, karena sel-sel memori tubuh masih berfungsi untuk menawarkan perlindungan substansial, kata direktur lembaga pemerintah yang melakukan penelitian tersebut.

"Setelah enam bulan, kami akan dapat memberitahu Anda dengan lebih jelas apakah dan kapan booster akan dibutuhkan," kata Sanghamitra Pati dari Pusat Penelitian Medis Regional, yang berbasis di kota timur Bhubaneswar, kepada Reuters, Selasa (14/9/2021).

Temuan ini disebut dapat membantu pemerintah India memutuskan apakah akan memberikan dosis booster seperti yang telah dilakukan beberapa negara.

"Kami akan mendesak studi serupa di area yang berbeda untuk data pan-India." sebutnya.

Para peneliti Inggris mengatakan bulan lalu bahwa perlindungan yang ditawarkan oleh dua dosis vaksin Pfizer dan AstraZeneca mulai memudar dalam waktu enam bulan.

Studi India, yang diterbitkan di platform pracetak Research Square tetapi belum ditinjau oleh rekan sejawat, adalah salah satu penelitian pertama dilakukan di negara tersebut yang melibatkan dua vaksin utamanya Covishield, vaksin jadi buatan AstraZeneca, dan Covaxin, vaksin yang diproduksi India .

Pejabat kesehatan mengatakan meskipun mereka sedang mempelajari tentang dosis booster, prioritasnya adalah untuk mengimunisasi 944 juta orang dewasa di India. Lebih dari 60 persen dari mereka telah menerima setidaknya satu dosis dan 19 persen mendapatkan dosis kedua.

BACA JUGA



Simak Video "Hasil Memuaskan Mix Vaksin Sinovac-AstraZeneca yang Diuji Thailand"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)