Rabu, 15 Sep 2021 07:00 WIB

Singapura Pertimbangkan Vaksin Non mRNA untuk Booster, Pakai Sinovac?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Singapura kembali memperketat pembatasan imbas lonjakan jumlah kasus COVID-19 beberapa hari terakhir. Padahal hampir 3 minggu Singapura membuka roadmap hidup berdampingan dengan COVID-19. Singapura vaksin Corona. (Foto: Getty Images/Ore Huiying)
Jakarta -

Singapura tengah mengkaji vaksin non mRNA untuk vaksin booster. Pemerintah setempat disebut tengah bernegosiasi dengan pemasok vaksin untuk mendapatkan sejumlah dosis.

Menteri Senior Negara untuk Kesehatan, Janil Puthucheary mengatakan Singapura tetap menjalankan road map hidup bersama COVID-19, meskipun transisi ke tahap selanjutnya saat ini harus ditunda karena kembali melaporkan lonjakan kasus.

Dikutip dari Channel News Asia, Komite Ahli Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) aktif mempelajari strategi heterolog vaksin non mRNA sembari terus mengamati efek samping dari data global dan lokal usai divaksinasi, sebelum merekomendasikan ke kelompok populasi yang lebih luas.

Komite telah merekomendasikan manula berusia 60 tahun ke atas menerima vaksin booster enam sampai sembilan bulan setelah vaksin COVID-19 dosis kedua, sementara individu dengan gangguan kekebalan atau imunitas tubuh harus mendapatkan booster dua bulan setelah vaksinasi lengkap.

Menurut MOH, orang-orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh harus mendapatkan dosis ketiga dari vaksin mRNA yang sama untuk memastikan mereka memiliki respons kekebalan protektif yang maksimal usai vaksinasi. Efek mencampurkan dua jenis vaksin COVID-19 yang berbeda juga sedang dipelajari lebih lanjut.

Sejauh ini, beberapa penelitian menunjukkan hal tersebut efektif.

"Kami sedang bernegosiasi dengan pemasok untuk memberikan kami vaksin booster non-mRNA, dan beberapa sedang mempersiapkan aplikasi mereka untuk PSAR (jalur akses khusus pandemi)," kata Dr Puthucheary pada hari Selasa.

PSAR mengizinkan Otoritas Ilmu Kesehatan untuk memberikan otoritas sementara bagi vaksin yang akan digunakan di Singapura. Vaksin Sinovac China, jenis vaksin inactivated, disetujui pada bulan Juni, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan vaksin Sinovac dalam daftar emergency use of listing (EUL).

Vaksin non-mRNA dalam daftar penggunaan darurat WHO termasuk vaksin vektor virus seperti Oxford-AstraZeneca dan Johnson & Johnson, serta inactivated lainnya seperti Sinopharm.

Singapura juga telah menandatangani perjanjian pembelian di muka dengan perusahaan bioteknologi Amerika Novavax untuk mengamankan vaksin berbasis proteinnya, dengan pasokan yang mungkin tiba sebelum akhir tahun.

"Kami memiliki strategi yang disengaja untuk mendapatkan portofolio vaksin yang menggunakan teknologi berbeda, untuk meningkatkan peluang kami mengamankan vaksin yang akan terus aman dan efektif melawan COVID-19," tambah Dr Puthucheary.

Pada 9 September, 81 persen populasi Singapura telah menyelesaikan vaksinasi lengkap mereka, sementara 85 persen telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)