Rabu, 15 Sep 2021 15:14 WIB

Pakar IDI Khawatir RI Masuk Hiperendemi Bukan Endemi, Ini Alasannya

Ayunda Septiani - detikHealth
Petugas Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan Bukit Duri, Jakarta menyelesaikan pembuatan mural tentang Covid-19, Jakarta, Selasa  (11/8/2020). Jumlah pasien positif Covid-19 di DKI Jakarta per Senin (10/8/2020) adalah 26.162 orang. Angka ini tertinggi di Indonesia. Dari total kasus positif itu, 16.446 orang dinyatakan telah sembuh, sedangkan 940 orang dilaporkan meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 8.807 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit maupun menjalani isolasi mandiri. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan bahwa dirinya tidak masalah jika pemerintah menyatakan siap untuk memasuki endemi. Namun, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencapai fase endemi.

"Artinya kita harus menyesuaikan diri dengan pola pikir baru: hidup dengan SARS-CoV-2. Pertanyaan besarnya, apakah terlalu dini untuk transisi atau apa-apa saja yang diperlukan untuk sampai ke sana (endemi)?" jelas Prof Zubairi lewat akun resmi Twitternya @ProfesorZubairi, Rabu (15/9/2021).

Prof Zubairi juga mengatakan, mengakhiri pandemi COVID-19 bukan berarti virus COVID-19 akan hilang dan tidak ada kasus baru. Ada beberapa faktor yang membuat pandemi berpindah menjadi endemi.

Faktor-faktor ini dijelaskan Prof Zubairi akan berbeda di tiap daerah di Indonesia. Terlebih masih ada ketimpangan faskes dan serapan vaksinasi yang bervariasi serta ketersediaannya.

"Saya rasa situasi yang membaik ini momentum yang pas untuk mempersiapkan transisi," paparnya.

"Ya syaratnya harus ada koordinasi yang solid semua pihak dan tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Kalau longgarnya kebablasan, bisa-bisa malah menjadi hiperendemi, alih-alih menuju endemi," tambahnya.

Sebagai informasi tambahan, Prof Zubairi mencontohkan, pandemi influenza H1N1 tahun 1918 berubah menjadi endemi dan muncul dalam wabah musiman yang lebih kecil pada 40 tahun berikutnya. Kemudian, wabah SARS-CoV-1 yang mewabah sejak 2002 berhenti sampai Juli 2003. Namun ternyata sempat ditemukan pada 2004 di Tiongkok.



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/naf)