Selasa, 21 Sep 2021 09:02 WIB

Pengunjung 'Tumplek' di Pantai Sanur, Sudah Pada Lupa Sama Varian Delta?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Wisatawan memadati area Pantai Sanur saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di Denpasar, Bali, Minggu (19/9/2021). Obyek wisata yang dicanangkan sebagai kawasan zona hijau bebas COVID-19 tersebut ramai dikunjungi wisatawan setelah PPKM level 4 diturunkan menjadi level 3. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/wsj. Pengunjung kembali memadati pantai Sanur, Bali, Minggu (19/9/2021). Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Jakarta -

Pantai Sanur, Bali, kembali dipadati pengunjung. Berdasarkan laporan pada Minggu (19/9/2021), ramai pengunjung 'tumplek' di kawasan bidikan para turis tersebut. Mengingat COVID-19 di RI disebut-sebut sudah mereda, sudah amankah berkerumun di lokasi wisata bak tak ada Corona?

Ahli epidemiologi dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane mengingatkan soal bahaya 'revenge travel' atau meningkatnya euforia masyarakat untuk kembali berwisata lantaran sudah jenuh berbulan-bulan harus diam di rumah.

Sebab meski kasus COVID-19 RI tercatat sudah menurun, misalnya dengan penambahan sebanyak 1.932 kasus baru per Senin (20/9/2021), risiko lonjakan kasus COVID-19 kembali tetap ada selama kasus baru masih ditemukan.

"Ini yang kita khawatirkan, revenge travel. Karena sudah dibatasi selama beberapa bulan, pada euforia merasa bebas ya," terangnya pada detikcom, Senin (21/9/2021).

"Revenge travel adalah fenomena umum. Kalau kita tersandera kesibukan sampai jenuh kita ingin balas dendam," sambung Pane.

Siap-siap kasus melonjak lagi?

Ia menambahkan risiko dari maraknya revenge travel yakni peningkatan transmisi kasus COVID-19. Penerapan protokol kesehatan jelas bisa menekan risiko penularan. Namun yang kerap menjadi tantangan, penerapan protokol khususnya di lokasi-lokasi ramai tak selalu dalam pengawasan optimal.

"Selama pandemi belum berakhir semua protokol harus tetap dijalankan dengan disiplin. Sekalipun jumlah kasus dan positivity rate serta indikator-indikator pengendalian lainnya sudah membaik," ujarnya.

"Jika revenge travel tetapi semua persyaratan perjalanan dan protokol kesehatan dilakukan dengan disiplin tentu saja tidak bermasalah. Masalah utamanya siapa yang mengawasi atau mengontrol kerumunan yang tercipta ini. Kalau tidak ada ya risikonya menjadi tinggi untuk meningkatkan jumlah kasus," sambung Pane dalam penjelasan lebih lanjut.



Simak Video "Kritikan Ahli Atas Kebijakan Inggris Tangani Lonjakan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)